Astaga! PT. MNS Diduga Terapkan Kerja Romusha Bagi Sejumlah Karyawan di Bitung

oleh -140 views
Salah satu karyawan PT.MNS yang sakit namun disuruh turun membersihkan selokan

BITUNG – Meski jaman telah berubah namun sistem perbudakan di Indonesia, masih melekat erat hingga saat ini.

Seperti yang terjadi di Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, dimana sejumlah karyawan PT. Multi Nabati Sulawesi (MNS), menerima perlakuan semena-mena yang tak manusiawi dari atasan mereka.

Dimana para karyawan tidak diperbolehkan meminta izin sakit, meski mengidap penyakit kronis.

Bahkan dalam pengakuan sejumlah karyawan saat masuk kerja usai menjalani perawatan, mereka justru langsung diberi SP2, bahkan ada yang disuruh membersihkan got, meski dalam keadaan sakit.

“Kami juga disebut sudah tidak produktif lagi ketika sakit, padahal sudah bekerja puluhan tahun,” beber mereka

Tak terima dengan perbuatan semena-mena tersebut, para karyawan pun melayangkan surat tuntutan ke PT. MNS untuk mencari keadilan.

Mereka menuntut agar PT. MNS dapat menarik atau memberhentikan dua oknun petinggi yakni Tepen Sianipar dan Rosiana Sinaga yang diduga menjadi ‘otak’ kerja romusha yang dialami oleh sejumlah karyawan itu.

Baca juga:   Pasien yang Sembuh dari Covid-19 di Sulut Meningkat, Manado Terbanyak

Menanggapi hal tersebut Sekjen Pola, Muhammad Rasubala, mengecam adanya perlakuan semena-mena yang diterima oleh sejumlah karyawan di PT. MNS Bitung.

Ia mengatakan apa yang dialami para karyawan tersebut, merupakan wujud dari perbudakan modern.

“Kalau dulu, orang tua kita sering menyebut ini romusha pada masa penjajahan Jepang. Namun yang disayangkan perbudakan yang terjadi saat ini justru dilakukan oleh sesama bangsa Indonesia,” tegasnya.

Rasubala pun meminta agar direksi PT. MNS maupun komisaris dapat menindak lanjuti aspirasi dari para karyawan tersebut.

Sementara Humas PT. MNS Bitung, Ana menjelaskan apa yang menjadi keluhan para karyawan tersebut, sebenarnya hanya merupakan miskomunikasi.

“Sebab tidak ada pemaksaan disini para karyawan harus turun ke got dan membersihkan saluran,” bebernya.

Ia mengatakan seperti yang terjadi pada beberapa karyawan yang mengaku masih sakit, maka mereka tidak dipaksa.

“Intinya ini merupakan program kantor untuk meningkatkan semangat dan produktifitas karyawan, namun kita juga tidak menyuruh mereka mengerjakan hal berat,” jelas dia.

Baca juga:   Presiden RI Kunjungi Kota Bitung, Tinjau Beberapa Lokasi

Ana pun menggambarkan, aksi bersih-bersih yang dilakukan tersebut justru lebih seperti workshop untuk membugarkan fisik karyawan yang sudah kurang produktif. (DRP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.