86 views

Kisah Jogi Hendra Atmadja, Dokter yang Kaya Raya dari Jualan Camilan

oleh -86 views
Jogi Hendra Atmadja

MANADO – Permen Kopiko saat ini tengah viral bahkan mendunia pasalnya, belakangan ini produk buatan perusahaan lokal, PT Mayora Indah Tbk itu, muncul diberbagai film populer salah satunya di film korea populer Vincenzo

Nama Mayora sendiri sudah tak asing di telinga pecinta camilan. Maklum, tak sulit menemukan berbagai produknya di sekitar kita mulai dari biskuit, permen, wafer, mi intan, minuman instan, kopi, hingga air mineral.

Karena Mayora merupakan salah satu raksasa industri makanan dan minuman ringan di Indonesia.

Kesuksesan Mayora tak lepas dari sosok Jogi Hendra Atmadja, salah satu orang terkaya di Indonesia. Lahir di Jakarta pada 1946 silam, Jogi dibesarkan di lingkungan keluarga keturunan Tionghoa yang berbisnis biskuit rumahan.

Usai lulus sekolah menengah atas, Jogi melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti.

Meski sudah mengantongi gelar dokter, Jogi tak bisa lepas dari dunia bisnis. Ia ingin mengembangkan usaha biskuit keluarga yang sudah dirintis sejak 1948.

Baca juga:   Jangan Lewatkan, Ini List Drakor Terbaru yang Tayang Juli 2021

Bersama Darmawan Kurnia dan Raden Soedigdo, Jogi mendirikan PT Mayora Indonesia pada 17 Februari 1977 di Jakarta dengan mengoperasikan pabrik pertama di Tangerang, Banten.

Saat itu, Jogi memilih untuk duduk menjadi komisaris utama yang bertugas mengawasi kinerja direksi.

Awalnya, biskuit kelapa Roma menjadi jagoan perusahaan. Rasanya yang gurih dan manis menjadi pilihan untuk menjadi teman minum teh.

Kemudian, pada era 1980-an, perusahaan meluncurkan permen kopi pertama di Indonesia, Kopiko, yang langsung mencuri hati konsumen.

Setelah itu, perusahaan melahirkan merek-merek populer, seperti Beng-beng, Astor, Choki-choki, hingga Torabika.

Produk Mayora tak hanya dijual di Indonesia tetapi juga merambah 90 negara. Tiap kali meluncurkan produk baru, perusahaan selalu menyematkan slogan ‘Satu Lagi dari Mayora’.

Setelah 23 tahun berjalan sebagai perusahaan tertutup, pada 1990, Mayora melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan harga penawaran saham perdana Rp9.300.

Baca juga:   Ini Cara Berpuasa Bagi Penderita Jantung, Simak Penjelasan Medisnya

Selang tiga tahun, perusahaan merambah bisnis keuangan dengan mendirikan Bank Mayora. Perusahaan menjadikan kualitas, efisiensi, dan inovasi sebagai tiga kunci kesuksesan.

Meski pandemi, Mayora mampu mempertahankan bisnisnya untuk terus tumbuh tahun lalu dengan mencatat penjualan hingga Rp24,47 triliun.

Alhasil, laba perusahaan naik 3,5 persen menjadi Rp2,06 triliun. Total aset perusahaan juga tumbuh 3,88 persen menjadi Rp19,77 triliun.

Saat ini, Jogi masih menjabat sebagai Komisaris Utama Mayora. Bisnis tersebut ia wariskan kepada ketiga anaknya yang duduk di kursi direksi Andra Sukrendra Atmadja, Hendarta Atmadja, dan Wardhana Atmadja.

Per September 2020, Forbes mencatat total harta Jogi dan keluarga mencapai US$4,3 miliar atau sekitar Rp62,35 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per dolar AS) yang sebagian besarnya berasal dari kepemilikan saham mayoritas Mayora.

Kekayaan tersebut menempatkan Jogi dan keluarga di posisi ke-7 pada daftar 50 orang terkaya di Indonesia pada 2020 versi Forbes. (GIW)

Baca juga:   Pesan Menyentuh Maurits Usai Bantu Calon Mahasiswi Faked yang Viral di Medsos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.