Konflik Lahan Pasar Winenet Memanas, Perumda Pasar Disebut Tabrak Aturan!

oleh
Lahan Pasar Winenet Bitung yang masih bermasalah hingga saat ini

BITUNG – Konflik lahan Pasar Winenet di Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara kembali memanas.

Memanasnya konflik ini, setelah Perumda Pasar Bitung, menurunkan aparat kepolisian untuk menertibkan pasar yang dikelolah ahli waris lahan CT Sompotan dan Keluarga Awondatu.

Bahkan dalam penertiban itu kepolisian menangkap pekerja dari ahli waris, dimana mereka dituding melakukan pungli.

Terpantau selain menangkap para pekerja pengelola pasar, Perumda Pasar Bitung, juga melakukan provokasi terhadap para pedagang agar jangan membayar jasa sewa lahan pada keluarga.

Menanggapi perlakuan tersebut, membuat pihak ahli waris geram. Saat diwawancarai Jumat (30/7) malam kemarin, salah satu Ahli Waris Lahan CT Sompotan, Alfred Harry Machmud menyayangkan adanya penangkapan dan provokasi terhadap para pedagang untuk jangan membayar sewa lahan.

“Padahal ini masih bersengketa dan hingga saat ini Pemkot Bitung belum dapat menunjukan bukti kepemilikan atas lahan ini, sebab alas hak lahan Pasar Winenet, masih ada ditangan kami,” ujar Alfred.

Baca juga:   Kandouw : Berdayakan Potensi Pariwisata Daerah Sendiri

Dalam kesempatan itu ia juga menjelaskan mengapa hingga saat ini Pasar Winenet masih milik ahli waris CT Sompotan.

“Jadi awalnya pada tahun 1980 Pemkot Bitung dibawah kepemimpinan Karel Senduk bernegosiasi dengan keluarga melakukan pembebasan lahan, untuk pembangunan jalan 46,” ujarnya.

Dimana lanjut dia, dari program pembangunan itu, ada 9200 meter lahan milik CT Sompotan, yang harus dibebaskan.

“Setelah itu terjadilah pembicaraan, dimana pada waktu itu Pemkot Bitung akan membayar lahan itu, sebesar Rp 51 juta,” tutur Alfred.

Namun tambahnya setelah pembicaraan pembayaran panjar dilakukan pada tahun 1981 sebanyak dua kali, pertama Rp 10 juta dan kemudian Rp 3 juta.

“Pembayarannya pun hanya terhenti sampai disitu dan tak pernah lagi dibayar. Dan sejak tahun 1980 hingga saat ini, lahan keluarga kami dikuasai dan diambil keuntungan oleh Pemkot Bitung,” jelas dia.

Sehingga atas dasar ini juga lanjut Alfred, terkait status lahan Pasar Winenet sudah dua kali dibahas di dewan yang diikuti oleh seluruh stakeholder terkait, termasuk dari BPN.

Baca juga:   Waspada! Bencana Alam Intai Sulut Ditengah Ancaman Pandemi

“Hasilnya pun jelas dalam dua kali pembahasan, Pemkot Bitung tidak mampu menunjukan alas hak kepemilikan tanah di Pasar Winenet sehingga pada Oktober 2019 dikeluarkanlah rekomendasi dari DPRD Bitung,” ujarnya.

Dimana tambah dia, dalam rekomendasi itu, DPRD meminta Disperindag harus menyelesaikan permasalahn tanah di Pasar Winenet dan pada poin kedua Disperindag diminta menangguhkan sementara penagihan sewa tanah dan bangunan yang ada di Pasar Winenet sampai mendapatkan keputusan hukum yang sah.

“Dimana berdasarkan putusan itu, jelas DPRD memberikan peluang kepada pihak keluarga untuk mengelolah sewa lahan di Pasar,” jelasnya.

Sehingga tambah Alfred, saat ini keluarga merasa keberatan jika penagihan jasa sewa lahan ini disebut pungli oleh Perumda Pasar, karena justru mereka yang tidak memiliki dasar mengklaim kepemilikan tanah

“Saat ini ada sekitar 115 lapak yang dikelola dan disewakan keluarga untuk para pedangang dengan tarif bervariasi namun maksimalnya Rp 350 ribu perbulan, dimana dari hasil sewa tersebut, kami mendapatkan profit sekitar Rp 40 jutaan,” tandasnya.

Baca juga:   Begini Pengakuan Predator Anak di Bitung Usai Cabuli Lima Bocah

Sementara Perumda Pasar Bitung, saat dikonfirmasi lebih memilih bungkam. Direktur Umum Perumda Pasar, Tasman Balak mengatakan mengenai permasalahan Pasar Winenet masih sementara berproses di Polres Bitung.

“Sehingga kami tetap bersabar dan menunggu proses,” bebernya.

Disentil terkait adanya upaya provokasi yang dilakukan Perumda Pasar ke pedagang seperti yang dituding keluarga Tasman tak membantah hal tersebut.

“Mohon maaf kita tunggu saja prosesnya hingga selesai,” tandas dia. (GIW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.