Kronologi Meninggalnya Warga Manado, Sehari Setelah Divaksin Astrazeneca

oleh

MANADO – Irwan Dulu (46) dikabarkan meninggal dunia sehari setelah divaksin.

Irwan merupakan warga di kelurahan Mahawu, Tuminting, Manado, Sulawesi Utara.

Prof Grace Kandou, Pakar Epidemiologi Sulut, mengatakan kasus ini perlu diselidiki lebih lanjut.

“Kita tidak bisa bilang penyebab kematian oleh karena divaksin,” ungkap Prof Grace, Rabu (14/7)

Dia juga mengatakan, bisa saja kematian terjadi karena heart attack.

“Bisa saja terjadi kematian akibat heart attack yang kebetulan terjadi 1-2 hari sesudah divaksin,” ujarnya.

Prof Grace menjelaskan, diketahui bersama bahwa serangan jantung MCI bisa datang kapan saja dan mendadak.

“Jadi Jangan vaksin dikambinghitamkan selalu,” ujar Prof Grace.

Menurutnya, bila terjadi kematian sesaat sesudah disuntik vaksin, itu ada kemungkinan penyebabnya bukan karena vaksin, karena dalam kasus ini, kejadiannya lebih dari 24 jam.

“Jadi kita harus berhati-hati dalam mengambil kesimpulan soal kematian yang terjadi akibat vaksinasi covid-19,” jelas Prof Grace.

Dirinya juga menyampaikan kepada masyarakat jangan langsung percaya bahwa setiap kasus kematian sesudah 1-2 hari pasca vaksinasi, hal itu disebabkan karena suntikan vaksinasi Covid-19.

Baca juga:   Astaga! Gaji Pala/RT di Bitung Dipangkas, Ada Apa?

“Padahal kemungkinan besar kematian terjadi karena sebab lain. Hanya kebetulan saja waktunya hampir bersamaan. Untuk itu mari masyarakat, jangan takut untuk divaksin,” ungkapnya.

Prof Grace menerangkan, bila memang ada penyakit yang diderita sebaiknya berkonsultasi dengan dokternya dulu agar dapat dipastikan kondisi kesehatan yang bersangkutan ketika akan divaksinasi.

“Andai vaksin Covid tersebut menyebabkan kematian, apakah semua orang ada di berbagai belahan dunia ini yang telah divaksinasi Covid-19 misalnya Vaksin Astra Zeneca, apakah sudah meninggal semua?,” ujarnya.

Ia mengatakan, kalau kejadian kematian akibat vaksin tersebut tinggi, tentu tidak akan dipakai lagi jenis vaksin tersebut.

“Buat apa dibuat vaksin untuk memproteksi masyarakat dari Covid lantas hanya menyebabkan kematian?,” tuturnya.

Kata Prof Grace, Perlu diketahui bahwa justru vaksin Astra Zeneca dan Pfizer yang adalah vaksin terbaik yang ada, itu menurut hasil riset ahli vaksin dunia.

“Jadi sekali lagi masyarakat jangan takut untuk divaksin. Negara melakukan yang terbaik untuk warganya,” pungkas Prof Grace Kandou.

Menurut pengakuan pihak keluarga, pria tersebut memiliki penyakit bawaan.

Baca juga:   Peduli Warga yang Sakit, GSVL Tugaskan Kadis Kesehatan Antar Pasutri ke Rumah Sakit

Hal itu sebagaimana yang disampaikan oleh istrinya, Salma Panto, Rabu (14/7)

Salma menuturkan, kala itu Jumat 9 Juli 2021 dirinya bersama suami pergi ke lapangan lokasi vaksinasi yang digelar oleh Puskesmas Kecamatan Tuminting.

Maksud Salma dan suaminya ke sana bukan ingin divaksin. Tujuang mereka ingin meminta surat keterangan bahwa suaminya tidak bisa divaksin karena ada penyakit bawaan.

“Setahu kami, kalau ada penyakit bawaan tidak bisa dilakukan penyuntikan vaksinasi jadi ke sana hanya untuk meminta surat keterangan bahwa tidak bisa divaksin,” kata Salma.

Pengurusan surat keterangan ini dilakukan Salma dan suaminya karena setiap mengurus dokumen-dokumen di kelurahan mereka selalu dimintai surat vaksin atau surat keterangan tidak bisa vaksin.

“Tapi setelah tiba di lokasi vaksin, dari vaksinator hanya bertanya kalau bapak mengonsumsi obat kami berani melakukan penyuntikan tapi kalau tidak kami tidak berani. Namun karena bapak saat itu mengonsumsi obat jadi mereka melakukan penyuntikan,” tandasnya.

Kemudian lanjutnya, sore hari bersama suaminya langsung pulang, besoknya sudah merasa panas dingin, lalu malamnya cepat tidur karena sudah mengantuk.

Baca juga:   Walikota GSVL Hadiri Rapat Paripurna Pengrsahan Tiga Ranperda

“Saat sudah tidur, suami saya tidur di kamar belakang bersama anak yang satu dan saya di kamar depan bersama anak yang satu. Dua kali dia melihat saya dan anak saya sedang tidur dan mengatakan agar acnya dimagikan karena saya juga demam saat itu,” ungkapnya.

Akan tetapi kata Salma pada Minggu (11/7) sekitar pukul 04.00 Wita dia pergi melihat suaminya namun sudah tidak bernyawa lagi.

“Sebelumnya bapak dan saya sehat lalu pergi di lokasi vaksinasi. Pada hari Sabtu bapa sempat bekerja dengan pekerjaannya sehari-hari mengendarai bentor,” tambahnya.

Dengan kejadian ini Salma sampaikan sudah menghubungi nomor yang ada di surat keterangan vaksinasi, tapi mereka hanya menyampaikan turut berdukacita.

“Sampai hari ini belum ada dari tim kesehatan yang datang dan hanya menyampaikan sudah melaporkan hal ini kepada pimpinan,” ucapnya.

Salah satu hal yang sangat membuat dia sangat sedih karena suaminya memiliki dua anak bersamanya dan dia sebagai tulang punggung yang mencari nafkah.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.