Sederet Profesor Asal Sulut Elaborasi Pencegahan Stunting

oleh
Tampilan layar seminar virtual yang dilaksanakan oleh Perwakilan BKKBN Sulut bertajuk '100 Profesor Bicara Stunting'.

MANADO-Sederet profesor ternama di Sulawesi Utara ikut bicarakan penanganan stunting. Kegiatan ini turut menyukseskan program BKKBN RI yaitu ‘100 Profesor Bicara Stunting’ rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional ke-28.


Diadakan secara virtual melalui akun resmi sosial media BKKBN Sulut, melibatkan tiga orang profesor. Sesuai jadwal, BKKBN Sulut masuk wilayah Indonesia Tengah yang dihelat pada Selasa (6/7/2021).


Pertama, Prof Dr dr Nova H Kapantow MSc SpGK sebagai Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Prof Nova Kapantow mengelaborasi tentang gizi remaja dalam menentukan masa depan bangsa. Karena mencegah stunting erat kaitan dengan perbaikan gizi.


Kedua, Prof Dr dr Adrian Umboh SpA(K) selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Unsrat dan juga mantan Dekan Faked Unsrat Manado. Dalam penjelasannya, Prof Adrian Umboh menyebut bahwa pencegahan stunting dimulai dari anak dan remaja. “Terutama pendekatan secara klinis dengan memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan,” tutur dokter Konsultan Spesialis Anak ini.

Baca juga:   BKKBN Sulut Optimalkan KB Pasca Persalinan Pasca Keguguran


Ketiga, Prof Dr Unifah Rosyidi MPd yang adalah Ketua Umum PGRI. Dirinya menjelaskan peran pendidikan dalam pencegahan stunting.


Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Utara Ir Diano Tino Tandaju MErg berharap, seminar ini akan memperoleh langkah strategis yang bersumber dari berbagai disiplin ilmu.

Kepala Perwakilan BKKBN Sulut Ir Diano Tino Tandaju MErg membawakan sambutan dari ruang kerjanya.


Untuk memetakan dan mencari formula khusus penanganan stunting secara komprehensif. Demi mencegah kondisi gagal tumbuh pada anak Balita akibat kekurangan gizi kronis pada 1000 hari pertama kehidupan.


“Adanya telaah kritis terhadap penanggulangan stunting di Indonesia, niscaya menghasilkan terobosan efektif saat menentukan aksi cepat penanganan stunting di level pusat maupun daerah,” ujar Tandaju.


Lanjutnya, Presiden RI memberikan amanah kepada BKKBN sebagai Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting. Diumumkan pada 25 Januari 2021 disaksikan kementerian dan lembaga terkait lainnya, untuk bersama-sama dalam program percepatan pencegahan stunting.


Di mana di Indonesia prevalensi stunting cukup tinggi dengan capaian 27,67% pada tahun 2020. Untuk mendukung  percepatan pencegahan stunting di tingkat lapangan, maka dilibatkan sumber daya dan potensi yang dimiliki BKKBN.

Baca juga:   BKKBN Sulut Optimalkan 7 Dimensi Lansia

 
Meliputi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), Petugas Lapangan Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB), Kader Kelompok Kegiatan (POKTAN), Pembantu Pembina Keluarga Berencana (PPKBD) dan Sub PPKBD, sebagai ujung tombak program pembangunan di lini lapangan.


Dalam kebijakan ini, Presiden Jokowi menargetkan secara nasional prevalensi stunting yang harus dicapai sebesar 14% pada tahun 2024.(vhp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.