Larangan Mudik Tak Efektif Cegah Penyebaran Covid 19, epidemiolog : Kenapa Harus Susahkan Masyarakat

oleh
Calon penumpang dengan mobil pribadinya memasuki kapal ferry untuk menyeberang ke Pulau Sumatera di Pelabuhan Merak, Banten, Sabtu (10/4/2021). (ANTARA)

JAKARTA – Pemerintah, hingga saat ini masih tetap memberlakukan larangan mudik lebaran. Hal tersebut menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.

Pasalnya saat ini masyarakat Indonesia, seakan terbagi menjadi dua kubu, ada yang patuh dan menerima, namun ada juga dengan tegas menolak kebijakan larangan mudik lebaran tersebut

Salah satu yang menolak kebijakan larangan mudik tersebut, adalah Epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane.

Foto : Petugas memeriksa tiket pengguna sepeda motor yang akan menyeberang ke Pulau Sumatera di Pelabuhan Merak, Banten, Sabtu (10/4/2021). (ANTARA)

Ia menilai, aturan larangan mudik pada tahun ini tetap akan meningkatkan kasus positif virus corona karena pemerintah tak mendukung kebijakan itu dengan 3T yakni testing, tracing, dan treatment.

Masdalina menyebut, pemerintah tidak menggunakan pengalaman dan data mengenai larangan mudik tahun lalu dalam membuat kebijakan kali ini.

“Pada tahun 2020 pemerintah, katanya, juga melarang mudik lebaran tapi angka positif Covid-19 naik. Jika berkaca pada kejadian itu, semestinya pemerintah tak mengambil langkah serupa yang menurutnya “tidak memberi daya ungkit” terhadap upaya pengendalian Covid-19,” ujarnya

Ia mengatakan, sudah ratusan kebijakan pemerintah terkait pengendalian pandemi, ada yang mengukur implementasi dan evaluasinya? Apakah kebijakan itu memberi daya ungkit pengendalian? Kalau tidak, kenapa terus menyusahkan masyarakat?

Bagi Masdalina, kebijakan larangan mudik lebaran takkan bisa mencegah warga untuk tidak pulang ke kampung halaman, sebab mereka bisa saja mudik sebelum tanggal yang ditetapkan pemerintah

Larangan itu pun, kata dia, akan menjadi percuma jika di sisi lain pemerintah membolehkan tempat pariwisata beroperasi.

Sementara itu, tidak ada kemauan kuat dari pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan 3T yakni pengetesan, pelacakan, dan perawatan.

Baca juga:   Nyaris Ledakan SPBU di Bogor, Terduga Teroris Ini Sempat Ikuti Sidang Rizieq Shihab

“Mudiknya aman, tapi perilaku di tempat mudik itu yang bisa menyebabkan penyebaran (virus corona) banyak. Apa perilakunya? Berkunjung, reuni dengan teman lama, mencicipi kuliner di suatu tempat, itu yang kemudian menciptakan klaster-klaster baru.”

“Makanya yang terpenting 3T, apa itu pernah disebut pemerintah? Tidak.”

Pengamatan Masdalina, mayoritas kepala daerah tidak maksimal melakukan pengetesan dan pelacakan agar kasus Covid-19 di daerahnya “terlihat sedikit”.

Kalaupun dilakukan, tidak melaporkan kasus positif dengan angka yang sesungguhnya.

“Yang paling sederhana dia (pemda) naikkan jumlah sembuh, turunkan jumlah kasus, turunkan kematian. Mereka sudah tahu. Ada suatu daerah ‘ohya hari ini cukup laporkan 200 kasus, sisanya nanti saja,” tandasnya

Sementara juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan kebijakan larangan mudik lebaran berlaku di seluruh wilayah mulai tanggal 6-17 Mei 2021.

Karena itulah Kemenhub melarang pengoperasian seluruh moda transportasi darat, laut, udara, kereta api. Kecuali bagi mereka yang melakukan perjalanan dinas atau keperluan mendesak lainnya.

Itu mengapa ia membantah jika ada pelonggaran di 37 kabupaten/kota yang tersebar di delapan wilayah.

“Di wilayah aglomerasi itu setiap hari selalu ada pergerakan lalu lintas antar-kabupaten atau antar-provinsi dalam satu kawasan untuk kepentingan pekerjaan. Itu kenapa tidak dilakukan pelarangan karena 6-17 Mei masih ada kantor tidak cuti.”

“Tapi nanti akan ada pembatasan, masih kita susun edaran sehingga lebih detail.”

Baca juga:   Tewas Tertikam Pisau Sendiri,Aan Tersungkur di Pagar

Kendati telah dilarang, tapi Adita mengakui sangat sulit mengontrol pergerakan jalur darat yang didominasi kendaraan pribadi.

Foto : Petugas memeriksa tiket calon penumpang kapal ferry yang akan menyeberang ke Pulau Sumatera di Pelabuhan Merak, Banten, Sabtu (10/4/2021). (ANTARA)

Beberapa upaya, kata dia, telah disiapkan untuk mencegah kemungkinan adanya pemudik yang lolos sehingga menyebabkan terjadinya lonjakan kasus positif Covid-19.

Satu hal yang menjadi andalan yakni menambah titik penyekatan hingga dua kali lipat di sejumlah jalur yang dinilai bakal ramai dilalui pemudik.

Penyekatan jalur itu berlaku mulai dari Lampung, Jawa, hingga Bali.

“Kalau ada yang lolos masuk ke daerah tujuan, pemda lakukan penyekatan.”

“Kalau ada (pengendara) yang tidak memenuhi syarat seperti berdinas atau keperluan penting lainnya, akan diputarbalikkan untuk kembali ke daerahnya.”

Hal lain yang dilakukan yakni pengetesan secara acak atau random testing di lokasi-lokasi tertentu.

“Kalau ada yang positif akan dirawat seperti halnya menemukan kasus positif, seperti dikarantina.”

Namun demikian, jika ada pemudik yang lolos dari pengawasan dan tiba di kampung halaman, maka menjadi tanggung jawab kepala daerah untuk melakukan karantina selama lima hari.

Kewajiban itu tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan Satgas Penanganan Covid-19.

Akan tetapi merujuk pada mudik lebaran tahun 2020, meskipun pemerintah melarang mudik lebaran tapi setidaknya ada satu juta pemudik yang keluar dari Jabodetabek.

Adita berharap, jumlah tahun ini berkurang.

“Berkaca pada tahun lalu dengan pelarangan yang hampir sama, kira-kira masih ada satu juta orang masih bisa keluar dari Jabodetabek. Kami harap angka itu tidak terjadi lagi, kalau ada juga lebih kecil.”

Baca juga:   Hampir Layani 3 Pria, Bocah Kelas 5 SD Diamankan Polisi

Terpisah Seorang pekerja di Jakarta, Achmad Arief Ramadhan, mengatakan akan tetap mudik meski dilarang pemerintah.

Ia berkeras untuk mudik, karena tahun lalu ia tidak pulang kampung.

Untuk mengakali kebijakan pelarangan itu, ia akan mudik ke kampung halamannnya di Malang, Jawa Timur, lebih cepat yaitu pada 30 April.

“Betul, aku pulang lebih cepat untuk menghindari kebijakan itu dan aku memang wajib berusaha untuk balik karena tahun lalu enggak balik.”

“Tahun lalu enggak pulang karena dilarang dan kondisinya masih hangat-hangatnya Corona, jadi aku takutnya bawa penyakit ke rumah.”

Arief pun mengaku sudah memesan tiket pesawat untuk mudik nanti.

Senada dengan Arief, Agus Setiawan warga di Tangerang Selatan juga memutuskan tetap mudik dengan kendaraan pribadi kendati dilarang oleh pemerintah.

Tahun lalu, ia juga mengurungkan niatnya untuk pulang kampung ke Pacitan, Jawa Timur, karena kondisi pandemi.

Tapi tahun ini ia tak bisa lagi menunda. Ia sekeluarga telah divaksin, sehingga merasa aman untuk bertemu keluarga di sana.

“Orang tua masih ada semua, tahun lalu kan enggak mudik, ya masak sih dua tahun berturut-turut enggak mudik, rasanya gimana…”

“Lebih dari 50% yakin untuk pulang. Karena momen tahun lalu benar-benar hilang. Istriku juga tahun lalu baru kali itu enggak pulang.”

Artikel ini telah tayang di BBC dengan judul Mudik Lebaran dilarang, epidemiolog sebut ‘tidak efektif’: ‘Mengapa terus menyusahkan masyarakat?’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *