Muncul Aliran Diduga Sesat di Papua, Tangan Membentuk Piramida saat Berdoa

oleh -6 views

TIMIKA – Kepolisian Sektor Mimika Baru menggerebek salah satu rumah yang diketahui dijadikan tempat untuk beribadah oleh kelompok doa aliran Hati Kudus Allah Kerahiman Ilahi yang diduga merupakan aliran sesat, Minggu (28/7/2019), di area irigasi Jalan Hasanuddin, Timika, Kabupaten Mimika, Papua.

Berdasarkan keterangan dari Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto, penggerebekan dilakukan Minggu sore oleh personel Polsek Mimika Baru dipimpin Kanit Binmas, Iptu Mustafa dan berhasil mengamankan dua orang warga bernama Johanis Kasamol (60) yang merupakan pensiunan ASN Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika dengan jabatan terakhir Asisten III Bidang Administrasi dan Umum, serta seorang pengikut aliran ini bernama Benediktus Tanus (53).

Di dalam rumah yang digerebek, atau tempat dilakukannya ritual ibadah aliran ini tidak ditemukan warga ataupun pengikutnya. Namun, tidak jauh dari rumah itu terdapat rumah yang dihuni oleh saudara Benediktus Tanus. Saat disambangi petugas, yang bersangkutan menyampaikan di kebun tidak jauh dari rumahnya sedang berada saudara Johanis Kasamol, orang yang dituakan dalam kelompok doa aliran yang diduga sesat ini.

v1xzgwctrt92kjcyhni9_11324-1280x681

Keduanya kemudian diarahkan menuju rumah ibadah tersebut dan diambil keterangannya oleh petugas. Selanjutnya dibawa ke Polsek Mimika Baru untuk diambil keterangannya lebih lanjut.

Saat diamankan, petugas juga menyita barang bukti berupa Alkitab, buku Mari Bermada, buku tamu, buku pelayanan pasien dan spanduk berlambang atau simbol kelompok doa Hati Kudus Allah Kerahiman Ilahi.

Baca juga:   Demi Pria Lain, Wanita Ini Tega Bunuh Suaminya dan Membuang Jasadnya ke Sungai

Dari pengakuan Johanis, sejak tahun 2014 dirinya telah menjadi pengikut aliran Hati Kudus Allah Kerahiman Ilahi yang diketuai oleh Valentinus Reisubun. Valentinus sendiri merupakan Pengurus Sekolah Wilayah di Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) dan bertempat tinggal di Jalan Patimura, Timika.

0axtor8b5cj3zj0c3cfp_13339-800x510

Sejak tahun 2014 hingga saat ini, Johanis menjabat sebagai ketua kelompok doa aliran ini, setelah sebelumnya ditunjuk oleh saudara David Kanangopme yang merupakan seorang ASN aktif dilingkup Pemkab Mimika dan kini menjabatan sebagai Kabid Perhubungan Laut pada Dinas Perhubungan selaku pembina kelompok doa menggantikan saudara Valentinus Reisubun.

Johanis juga mengaku bahwa pendiri kelompok doa ini adalah saudara Salvator Kameubun pada tahun 2005. Pada tahun itu, tempat dilakukannya ibadah doa oleh kelompok ini bertempat dirumah pembinanya yaitu Almarhum Samuel Rayaan yang bertempat di kompleks Wowor, Jalan C. Heatubun.

Saat itu, Almarhum berprofesi sebagai pegawai pada Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika. Selanjutnya pada tahun 2013, tempat ibadah kelompok doa aliran ini berpindah ke rumah saudara Dian yang berlokasi di Jalan Cenderawasih.

Salvator Kameubun yang mendirikan aliran ini dan berdomisili di Tual, Maluku Tenggara, diyakini oleh penganut aliran ini merupakan ‘Nabi’ yang menghubungkan antara Allah dengan anggota kelompok doa. Sementara Yesus dihargai dan dihormati tetapi tidak untuk disembah. Karena, menurut aliran ini, yang disembah adalah Allah sang pencipta alam semesta. Begitu juga mereka percaya Bunda Maria merupakan ratu surga dan bumi.

Baca juga:   Grebek Pasar, Kaper BKKBN Sulut Blusukan Cari Akseptor Baru

r6mrhbadlfblgujgm3n3_21159-1024x535

Hal yang mendorong sehingga para pengikut aliran ini bisa terlibat atau masuk ke dalam kelompok doa ini lantaran disembuhkan oleh doa yang dipanjatkan kelompok ini.

“Bahwa yang mendorong hingga terlibat atau masuk didalam kelompok doa, karena disembuhkan oleh (doa) kelompok doa ini,” kata Kapolres dalam keterangannya.

Aliran ini dalam beribadah, mengawali doa mereka dengan gerakan tangan berbentuk piramida, sementara ajaran Kristen Katolik pada umumnya berbeda (Berbentuk Salib).

Adapun gerakan berbentuk piramida yaitu tangan kanan diletakkan diatas kepala sambil mengucapkan ‘Dalam nama Allah asal dan tujuan segala sesuatu’. Selanjutnya tangan kanan diletakkan diatas bahu kiri sambil mengucapkan “Bersama Putra Kudus Bapa, Putra Api dan Roh’ lalu tangan kanan diletakkan ke bahu sebelah kanan sambil mengucapkan “Allah mempelai Roh Kudus’. Dipaling akhir tangan kanan diletakkan diatas kepala bersamaan dengan mengucapkan kata ‘Amin’.

Bahkan, Johanis juga mengakui bahwa agama yang dianut oleh kelompok doa ini adalah Kristen Katolik seperti yang diakui di Indonesia maupun di dunia.

Semenjak Johanis menjadi ketua kelompok doa hingga saat ini, pengikutnya hanya brrjumlah empat orang, dirinya, David Kanangopme, Elias Ardi dan Benediktus Tanus.

Sejak tahun 2014 Johanis tidak pernah mengikuti ibadah di Gereja Katolik ataupun Gereja Katedral yang ada di Timika, dengan alasan bahwa iman seseoranglah yang menyelamatkan dirinya di akhirat kelak, dan kelompok doa ini hanya melakukan ibadah berdoa di hari Senin, Rabu dan Sabtu.

Baca juga:   Terungkap! Sederet Oknum Pemda Puncak Papua Adalah Penyuplai Dana Untuk KKB

Semenjak menjadi ketua kelompok doa aliran ini, Johanis juga tidak pernah menginformasikan tentang keberadaan kelompok aliran ini ke Pastor maupun Uskup yang berada di Mimika, dan hal itu diakuinya merupakan kelalaian secara sadar.

Anehnya lagi, saat ditanya petugas, Johanis tidak mengetahui arti dari simbol atau lambang dua ekor singa yang saling berhadapan, yang mana dipakai sebagai lambang dari kelompok doa yang dipimpinnya itu.

Sementara itu dari hasil koordinasi Kepolisian dengan Pastor Gereja Katolik Santo Stevanus Sempan, Lambertus Tina, menerangkan bahwa kedatangannya di Timika pada tahun 2015 telah menyembuhkan lebih dari 10 orang pengikut kelompok doa aliran Hati Kudus Allah Kerahiman Ilahi, yang mana 10 orang tersebut dengan ikhlas keluar aliran karena sebelumnya telah dipaksa untuk meninggalkan iman Katolik mengikuti ajaran kelompok doa.

Selanjutnya, dalam tata cara berdoa iman Katolik adalah berbentuk Salib, bukan berbentuk piramida. Bahkan penyebutan kalimat doa menurut iman Katolik berbeda dengan apa yang dilakukan pengikut aliran ini.

Kelompok doa ini juga diakui Pastor Lambertus Tina bahwa tidak pernah melaporkan keberadaannya kepada Pimpinan Gereja, baik Pastor maupun Uskup di Mimika. Selanjutnya, kelompok ini berkedok agama Kristen Katolik tetapi sesungguhnya telah menyimpang dari iman Katolik.

Sumber/ Okenews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.