Sembilan Bulan Berlalu, Begini Potret Kota Palu Pasca Gempa & Tsunami

oleh -14 views
Belum terlihat rekonstruksi signifikan bidang infrastruktur

PALU – Sembilan bulan telah berlalu setelah peristiwa alam berupa gempa, tsunami, dan likuefaksi mengguncang kota Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah. Kejadian yang datang tiba-tiba pada Jumat petang, 28 September 2018 itu, menyisakan puing-puing bangunan yang belum juga tersentuh rekonstruksi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menaksir kerugian material yang akibat bencana alam di Palu, Sigi, dan Donggala mencapai lebih Rp10 triliun. “Kalau kita bandingkan dengan Lombok, melihat lokasi di Sulawesi Tengah, perkiraan kerusakan di atas Rp10 triliun,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di gedung BNPB, Jakarta Timur, Oktober 2018.

1. Puing bangunan di Desa Jono Oge, Sigi

inr-6449-35c892754fec100d8f60194c9ae96ba8-1-500x334

Pengendara sepeda motor melintas di depan rumah yang hancur akibat pencairan tanah (likuefaksi) pasca gempa dan tsunami di Desa Jono Oge, Sigi (4/7/2019).

Wilayah yang dulunya dihuni oleh sebagian besar warga transmigran Jawa, kini tak terlihat lagi. Sekarang hanya lumpur dan sisa bangunan yang menutupi hampir seluruh wilayah tersebut.

Baca juga:   Berlatar Teluk Manado, Komisi IX DPR dan BKKBN Sosialisasi Program PK21

2. Likuefaksi sebabkan satu dusun “hilang”

inr-6454-cc79bdab23c5dd2ab99844d1e5e8d280-1-500x334

Sisa bangunan rumah warga di Desa Jono Oge, Sigi saat diabadikan pada Kamis (4/7/2019). Tanah ambles akibat fenomena likuefaksi membuat satu dusun di desa itu “menghilang” dari pandangan mata.

Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, “Likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang,” terangnya dalam rilis resmi BPNB pada 21 Oktober 2018 lalu.

3. Yang tersisa di Balaroa

inr-6291-ea21f24fa832890242565e2008070a78-1-750x500

Suasana terkini di Perumnas Balaroa, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/7/2019). Tampak bangunan bertingkat yang luluh lantak akibat guncangan gempa 7,4 magnitudo menerjang Palu dan Donggala.

BNPB memperkirakan sekitar 5.000 orang tertimbun tanah di kawasan permunas pertama di Kota Palu itu.

4. Kawasan Balaroa ditutup untuk pemukiman

inr-6252-14ef30d895dff9c95f943ba3ad1ab7a2-1-500x334

Seorang anak berdiri di antara reruntuhan bangunan yang rubuh diguncang gempa dan tanah ambles akibat likuefaksi di Perumnas Balaroa, Palu.

Baca juga:   Detik-detik Kecelakaan Maut di Sumedang, yang Tewaskan 26 Penumpang

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan BPNB menetapkan kawasan Perumnas Balaroa menjadi pemakaman massal. Selain itu, juga akan dibangun monumen untuk mengenang peristiwa gempa dan likuefaksi.

“Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa likuefaksi pascagempa Sulawesi Tengah (Sulteng) menyebabkan pengangkatan dan amblesan di Balaroa, Kota Palu, sedangkan jumlah perkiraan rumah terdampak mencapai 1.045 unit,” terang BPNB dalam laman resminya, 16 Oktober 2018.

5. Saksi tsunami di Jembatan Kuning

inr-6365-c29d2481e0167575aeb3e580bd7abf72-1-800x534

Dua orang warga menikmati sore hari di Jembatan Ponulele atau dikenal dengan nama “Jembatan Kuning” di Jl Syaikh Muhammad Al-Khidhir, Palu (3/7/2019). Jembatan yang menjadi penghubung antara kecamatan Palu Barat dan Palu timur itu roboh diguncang gempa dan tsunami pada 28 September lalu.

Hingga memasuki bulan ke-9, tidak terlihat aktivitas pembangunan kembali jembatan lengkung tersebut.

6. Masjid terapung kini terendam air laut

inr-6312-826cd8dcc32b7c7eb8c188cc2754514c-800x517

Seorang warga mengabadikan momen keluarganya dengan latar belakang Masjid Apung, di Pantai Talise, Kota Palu, Selasa (2/7/2019).

Baca juga:   Gudang Logistik Gereja Filadelfia Terbakar

Tiang penyangga masjid kebanggaan warga Palu itu roboh disapu ombak setinggi 9 meter saat gempa dan tsunami menerjang dari teluk Palu pada 28 September 2018. Masjid tersebut menjadi saksi dahsyatnya gulungan ombak kala itu.

Seperti itulah potret lokasi terdampak bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi di Kota Palu dan Sigi. Sembilan bulan berlalu, belum terlihat pengerjaan rekonstruksi infrastrutur secara signifikan.

Sumber/ IDN Times

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.