56 Anggota KPPS Meninggal Dunia

oleh -5 views
Komisioner KPU Wahyu Setiawan.

Jakarta, – Proses pemungutan dan penghitungan suara Pemilu serentak 2019 menelan korban jiwa puluhan orang. Berdasarkan data resmi Komisi Pemilihan Umum, terdapat 56 anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia terkait pemungutan suara 17 April lalu.

Selain itu, tidak sedikit yang jatuh sakit, ter­timpah kecelakaan, serta mendapat tindak kekerasan oleh pihak yang merasa tidak puas.

Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengatakan pihaknya tidak akan berdiam diri dalam menanggapi banyaknya petugas KPPS yang menjadi korban dalam menjalankan tugas. KPU akan memberikan santunan bagi keluarga korban.

Ke depan, Wahyu mengatakan akan mengusulkan kepada pemerintah dan DPR agar petugas KPPS diberi tunjangan dan asuransi. “Sudah saatnya negara memperhatikan jamin­an kesehatan badan penyelenggara pemilu ad hoc karena volume pekerjaan mereka yang luar biasa berat,” ujar Wahyu ketika dihubungi, kemarin.

Terkait masukan dari berbagai pihak untuk tidak lagi melakukan pemilu serentak pada 2024, Wahyu mengatakan KPU tidak punya kapasitas untuk menentukan itu. “KPU bukan dalam menilai UU. Jadi, ya kita kembalikan lagi kepada pembuat UU dalam hal ini pemerintah dan DPR,” ujarnya.

Baca juga:   Prabowo: Indonesia Tidak Akan Impor Apapun jika Saya Jadi Presiden

Hingga kemarin, sambungnya, setidaknya 56 petugas KPPS meninggal dunia saat menjalankan tugas pemilu sejak 17 April lalu. Namun, KPU masih belum bisa merilis dengan pasti di mana saja dan apa penyebabnya. Pendataan masih terus dilakukan untuk mengetahui jumlah pasti dan kondisi setiap anggota KPPS yang meninggal pascapemilu di setiap daerah.

Ya, sementara katanya begitu (56 orang). Namun, kami belum bisa menyampaikan rilis yang akurat,” ujar Wahyu.

Ketua KPU Jawa Timur Choirul Anam menyatakan sebanyak 10 perangkat pemungutan suara di Jatim mengalami kelelahan, sakit, hingga meninggal dunia ketika pemungutan suara 17 April lalu. Mereka terdiri atas 4 petugas KPPS, 2 Panitia Pemungutan Suara (PPS), 3 Linmas, dan 1 tenaga pendukung KPU. “Data itu merupakan laporan dari berbagai daerah di Jatim,” katanya.

Polisi meninggal

Dua polisi meninggal saat menjalankan tugas mengawal pelaksanaan pemilu di NTT. Keduanya ialah Direktur Pembinaan Potensi Masyarakat (Dirbinpotmas) Korbinmas Baharkam Polri Brigjen Syaiful Zachri dan anggota Polres Kupang Aiptu Stef Pekuali.

Baca juga:   TKN Terima 25.000 Aduan, Bersiap Bongkar Kecurangan Lawan

Brigjen Syaiful Zachri meninggal di Rumah Sakit Siloam, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Jumat (19/4/2019) sekitar pukul 11.40 Wita setelah sebelumnya mengeluh sesak napas saat berada di Pulau Kelor.

Jenazah langsung diterbangkan ke Jakarta pada hari yang sama dengan pesawat Batik Air dari Bandara Komodo, Labuan Bajo. Aiptu Stef Pekuali mengalami kecelakaan lalu lintas saat kembali dari pengawalan kotak suara di Kantor Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. “Almarhum mendapat penghargaan kenaikan pangkat satu tingkat,” kata Kabid Humas Polda NTT Komisaris Besar Jules Abraham Abast.

Aiptu Stef, yang mengendarai sepeda motor, bertabrakan dengan mobil pikap di kilometer 20 Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah. Korban terpental dari sepeda motor dan meninggal di lokasi kejadian, sedangkan sopir mobil pikap bersama tiga penumpang menderita luka ringan.

Sumber/ Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.