Di Desa Trunyan, Mayat-mayat ‘Diletakkan Begitu Saja’ di Bawah Pohon Menyan Tanpa Dikubur

oleh -14 views
Jenazah salah seorang warga Desa Trunyan, Kintamani, Bali, diletakkan di makam sema wayah yang berada di bawah pohon menyan. Jasad itu tidak dikubur, tetapi hanya diletakkan di atas tanah yang ditutup potongan bambu kecil.

BALI, – Ritual pemakaman di suatu wilayah terkadang terlihat sangat unik jika dilihat dari mata orang-orang dari wilayah lain.

Apalagi jika wilayah yang dimaksud adalah Bali yang memang dikenal sangat kental dengan tradisinya.

Salah satu contohnya adalah Desa Trunyan di Kecamatan Kintamani, Bali, yang terkenal dengan proses pemakaman yang dianggap cukup unik.

Bagaimana tidak, tubuh manusia yang telah meninggal tidaklah dikubur dan dikremasi sebagaimana mestinya, melainkan dibiarkan terbuka dan membusuk begitu saja.

Jenazah akan diletakan di tempat pemakaman Seme Wayah.

Untuk menuju ke Seme Wayah hanya dapat ditempuh dengan jalur atau atau menyebrangi Danau Batur.

Di sana, pengunjung akan melihat banyak tulang yang berjejer, tebaran uang, hingga barang-barang lain yang akan dibiarkan bersama jenazah tersebut.

Beberapa jenazah akan dibaringkan dalam sangkar bambu untuk menghindari hewan buas.

Ketika semua sangkar sudah penuh, maka jenazah yang paling lama akan dibuang untuk memberi ruang bagi mayat baru dengan meletakannya di atas tumpukan.

Baca juga:   Mengerikan! Rumah Pria ini Jadi Sarang Kecoak, Ternyata ini Penyebabnya
Tengkorak-tengkorak di kuburan Desa Trunyan, Bangli, Bali.
Tengkorak-tengkorak di kuburan Desa Trunyan, Bangli, Bali.

Ketika tubuh mayat sudah hancur akibat panas matahari, tulang-tulangnya akan ditempatkan di sebuah altar di bawah pohon suci.

Menariknya, meski dibiarkan terbuka, tetapi tidak ada bau menyengat yang ditimbulkan dari tubuh jenazah.

Hal ini karena adanya sebuah pohon besar dan tinggi yaitu taru menyan. Pohon inilah yang menetralisir bau tidak sedap dari pembusukan tubuh.

Di desa ini, ada tiga tempat pemakaman yang terpisah yaitu, Seme Wajah yang diperuntukan bagi mereka yang meninggal secara wajar.

Lalu Seme Bantah untuk mereka yang meninggal tidak wajar atau akibat kecelakaan dan Seme Muda untuk bayi, anak kecil, dan yang belum menikah.

Hanya laki-laki saja yang diizinkan untuk pergi ke sana dan mengantarkan jenazah setelah ritual persiapan dilakukan.

Pesiapas yang dimaksud meliputi pembersihan jenazah dengan air hujan dan membungkusnya dengan kain, tetapi bagian kepala tidak tertutup.

Baca juga:   (video) Aneh, Dari Telinga Anak Ini Keluar Kertas dan Ratusan Semut
Pemakaman di Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Pemakaman di Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Perempuan Trunyan tidak diperbolehkan untuk mengunjungi tempat pemakaman.

Mereka percaya bahwa desa akan terkena gempa bumi atau letusan gunung berapi jika perempuan mendatangi pemakaman tersebut.

Selain itu, mereka yang baru mengunjungi makam tidak boleh langsung masuk ke Pura Pancering Jagat dan harus melalui proses pembersihan dulu.

Sumber/ Intisari-Online.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.