Miris! Cuma Bergaji Rp 85 Ribu Sebulan, Guru Honorer di Flores NTT Harus Pinjam Ladang Warga untuk Bertahan Hidup

oleh
Ilustrasi guru sedang mengajar.

NTT – Kontribusi seorang guru di dunia pendidikan memang tidak ternilai harganya.

Sayangnya di Indonesia masih banyak guru yang digaji dengan tidak layak.

Hal itulah yang kini tengah dirasakan oleh beberapa guru hononer di Indonesia.

Kesejahteraan guru honorer yang mengabdi di sekolah di pedalaman Kabupaten, Sikka, Flores, NTT masih sangat jauh dari ideal.

Nasib itu dialami sembilan orang guru honorer yang mengabdi di SMPN 3 Waigete, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores.

Kesembilan guru honorer di sekolah negeri itu hanya menerima insentif sebesar Rp 85 ribu per bulan.

Tentu, insentif sekecil itu tidak bisa menutupi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.

Namun, meski kerja dengan upah yang sangat kecil itu, semangat mereka untuk mencerdaskan anak bangsa tidak pernah suram dan pudar.

Setiap hari mereka tetap datang di sekolah untuk mendidik anak-anak SMPN 3 Waigete.

Salah seorang dari sembilan guru honorer di sekolah negeri itu, Maria Yuliwati, bersedia diwawancara , Senin (1/4/2019).

Baca juga:   Bocah 4 Tahun Hilang Misterius dan Ditemukan Tewas Dalam Karung Di Sumur Tua
Guru honorer tetap semangat meski bergaji rendah.
Guru honorer tetap semangat meski bergaji rendah.

Dia menuturkan dirinya sudah dua tahun mengabdi jadi guru honor di sekolah itu.

Kata dia, sejak dirinya mulai mengajar dari tahun 2017 sampai sekarang, ia dan delapan guru lainnya diberi insentif sebesar Rp. 85.000 per bulan.

Menurut dia, besaran uang tersebut tidak bisa disebut gaji.

Tetapi lebih tepat namanya insentif untuk uang sabun.

Kalau dilihat dari jumlah uang memang sangatlah kecil. Tetapi, kami tidak kecil hati dan kecewa.Bagi kami, masa depan anak-anak jadi hal utama. Itulah semangat kami,” tutur Maria.

Lanjut dia, upah yang kecil malah menjadi pemacu untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.

Kami tidak sedih. Meski kami harus utang di orang untuk menutupi kebutuhan keluarga setiap bulan. Kami juga harus berani meminjam ladang milik warga setempat untuk tanam padi atau pun jagung. Kalau tidak, kami makan apa. Uang dari sekolah sangat tidak cukup untuk kebutuhan keluarga,” ungkap Maria.

Baca juga:   Diminta Ceraikan Istri Ke-4, Pria ini Pukul Istri Siri Dengan Balok Hingga Tewas

Guru lain bernama, Fransiskus Serang mengaku persoalan upah kecil tidak menjadi persoalan untuk berhenti mengajar.

Menurutnya, pendidikan itu sangatlah penting bagi masa depan anak-anak.

Pendidikan adalah kunci masa depan anak bangsa.

Kalau berpikir soal upah, yah pasti sudah mundur dari guru. Kami mau makan apa dari upah Rp 85.000 per bulan. Tapi kami mencintai pendidikan. Kami mencintai profesi guru. Kami sayang anak-anak,” tutur Frans.

Frans mengaku, guru adalah profesi yang mulia.

Kemuliaan itulah yang membuatnya jatuh cinta dan tetap bertahan menjalankan tugas sebagai guru.

Meskipun, nasib masih jauh dari untung.

Upah petani dan buruh bangunan masih jauh lebih besar dari kami para guru. Yah, inilah pendidikan kita. Menyedihkan tetapi harus terus dijalani. Mungkin ada waktunya kamk mendapat upah yang lebih layak nanti,” kata Frans dengan penuh harap.

Jangan Menyerah, Semuanya Belum Usai

Kepala SMPN 3 Waigete, Hendrikus Seda selalu berpesan kepada guru dan para siswanya agar tidak putus asa dalam kondisi serba sulit itu.

Baca juga:   Bolos Hingga Poligami, 20 PNS Nakal di Daerah Ini Dihukum

Ia melanjutkan, selain upah yang kecil, minimnya fasilitas sekolah jadi tantangan bagi para guru dan siswa SMPN 3 Waigete.

Kalau dilihat dari segi upah, memang guru-guru di sini sangat tidak layak. Tetapi, mereka semua luar biasa. Bagi mereka upah bukan sebuah perkara. Masa depan anak bangsa yang mereka utamakan,” kata Hendrikus.

Begitu pula dengan siswa. Mereka tetap rajin datang di sekolah meski harus belajar di gedung yang sempit dan nyaris ambruk,” tambahnya.

Kepada para guru dan siswa-siswi, ia selalu meminta agar tidak putus asa.

Jangan menyerah. Semuanya belum usai. Kondisi kita begini, jangan buat putus asa. Belajar dan terus belajar. Kita semua berharap, ke depan pemerintah bisa memerhatikan nasib guru honor di sekolah ini. Begitu juga dengan kondisi sekolah yang masih bangunan darurat,” ungkap Hendrikus dengan penuh harap.

Sumber/ Gridhot.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.