Gara-Gara Listrik Padam, Venezuela Dilanda Kegilaan, Toko-toko Dijarah

oleh -3 views
Demonstrasi di Venerzuela.

Internasional – Jalanan Karakas, ibu kota Venezuela, dipenuhi ribuan orang Senin (25/3/2019) siang. Orang-orang itu adalah pegawai yang dipulangkan lebih cepat karena kantor mereka tak bisa beroperasi.

Lampunya tiba-tiba menggila. Seakan-akan ada yang akan meledak,” ujar Denis Mendoza, pekerja call center di pusat kota Karakas, kepada The Guardian.

Langkah pria 28 tahun itu berat. Dia harus berjalan 90 menit menuju rumahnya di Petare, wilayah pinggiran Karakas. “Saya hanya berharap (mati listrik tak berlangsung lama, Red). Tapi, mungkin harapan saya salah,” ujar Mendoza.

Saat listrik tak tersedia, kota-kota Venezuela serasa pasien koma. Metro, kereta dalam kota, yang biasanya mengangkut ribuan pekerja tak bisa beroperasi. Warga pun hanya berharap bisa berjejalan di dalam bus.

Saya tidak tahu bagaimana pulang ke rumah. Kalau berjalan, saya butuh 2 jam,” ujar Ana Gonzalez, penjaga toko produk kebersihan, kepada AFP. Perempuan 64 tahun itu mengaku tak sanggup memaksakan diri masuk ke bus. Namun, dia juga tak kuat berjalan lama.

Baca juga:   Menikah 10 Tahun dan Tak Kunjung Hamil, Perempuan Ini Dibakar Hidup-hidup Oleh Mertuanya

Untung, lampu yang mati pada pukul 13.20 waktu setempat kembali menyala saat malam. Menteri Komunikasi Venezuela Jorge Rodriguez langsung membusungkan dada. Tentu, dia tetap menyebut Amerika Serikat sebagai pelaku sabotase.

Namun, rakyat tak begitu saja percaya. Mereka tak lagi menelan omongan politisi begitu saja. “Semua politisi hanyalah pembohong. Baik Maduro maupun oposisi,” ujar Jose Jaramillo, 32, pekerja konstruksi.

Mereka sadar betul bahwa pemerintah tak bisa diandalkan. Apalagi, masalah yang berhasil diatasi hanya listrik di Karakas. Menurut media lokal, listrik 14-16 negara bagian belum sembuh hingga kemarin, Selasa (26/3/2019).

Maria Vilallobos, jurnalis lokal, menangis sejadinya mengingat La Locura yang terjadi di Maracaibo. La Locura berarti kegilaan. Itu adalah sebutan tentang momen ketika penduduk kota terbesar kedua di Venezuela tersebut mengalami mati listrik masal. Selama tiga hari, mereka berada di neraka dunia. Gelap. Gulita. Ricuh.

Baca juga:   Rondonuwu Tutup Pelatihan Kangoshi di Jepang

Saya pikir, semua ini akan menjadi awal perang sipil. Di mana-mana, saya melihat kengerian, ketakutan, dan keputusasaan,” ungkapnya.

Banyak juga yang menduga bahwa bencana itu adalah tanda-tanda kiamat yang diciptakan para iblis. “El demonio (para setan, Red),” ujar Betty Mendez, penjaga toko lokal, saat ditanya penyebab kericuhan itu.

Saat listrik lumpuh 7 Maret lalu, sebanyak 1,9 jiwa penduduk Macaraibo mulai mendidih. Setelah tiga hari, kemarahan mereka langsung meledak. Mereka bagaikan kerasukan dan langsung menjarah apa pun yang tersimpan di toko.

Juan Carlos Koch menyebutkan, 106 dari 270 toko di pusat perbelanjaan yang dikelolanya hancur lebur. Hotel Birsas del Norte dibuat berantakan oleh massa yang mencapai 100 orang.

Seperti gelombang tsunami yang menyapu gedung,” ujar Simaray Cardozo, manajer Hotel Virgin of Carmen.

Para pengusaha dan pekerjanya tidak hanya takut menjadi korban penjarahan. Justru, mereka lebih takut kalau ke depan mereka menjadi penjarah. Sebab, keluarga mereka juga kelaparan.

Baca juga:   Pemerintah Malaysia Terapkan Persyaratan Aneh Kepada Siapapun yang Ingin Mencari Pesawat Airlines MH370

Yang paling menyedihkan, insiden ini bukan yang terakhir. Setiap kali mati listrik terjadi, keributan yang lebih besar bisa terjadi,” kata Maria Villalobos, istri pebisnis yang mengaku ikut menjarah.

Sumber/ POJOKSULSEL.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.