Peduli Alam dan Kesehatan, BPMS Imbau Jemaat GMIM Kurangi Pakai Kemasan Plastik

oleh -153 Dilihat
Sekretaris BPMS GMIM Pdt Evert AA Tangel STh MPdK (kanan) membawakan materi pembekalan dimoderatori Pdt Danny Selaindoong STh. Saat memberikan imbauan, Pdt Evert Tangel memberi contoh dengan membawa wadah air minum sendiri.
MANADO-Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) mendukung gerakan mengurangi pemanfaatan kemasan plastik air mineral.
Hal itu disampaikan Sekretaris BPMS GMIM Pdt Evert AA Tangel STh MPdK, saat menjadi pemateri pada pembekalan Pelsus dan Perangkat Pelayanan GMIM Sion Teling Sentrum Manado, Sabtu (19/1/2019).
Diharapkannya, jemaat yang tersebar di 980 gereja di 125 wilayah, kiranya dapat menekan pemakaian kemasan air mineral plastik seperti bentuk gelas.
Karena hasil penelitian dari sejumlah ahli, menyebutkan bahwa sampah plastik tidak bisa terurai dalam waktu lama.
Menurut Pdt Tangel, mengurangi pemanfaatan kemasan plastik, merupakan bentuk nyata GMIM lebih ramah dengan alam. Sehingga, dapat mengurangi peristiwa bencana alam di masa depan.
KURANGI PENGGUNAAN PLASTIK, LIMBAHNYA BERPOTENSI BAHAYAKAN KESEHATAN
dr Imran Agus Nurali SpKO.
dr Imran Agus Nurali SpKO.
Tak bisa dimungkiri plastik memang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dampaknya berpotensi membahayakan kesehatan, baik kesehatan lingkungan maupun kesehatan tubuh makhluk hidup.
Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Imran Agus Nurali SpKO mengatakan, ada dampak tidak bagus dari limbah plastik terhadap lingkungan atau kesehatan tubuh.
Menurutnya, hal itu karena plastik yang sulit terurai sehingga dampak yang terlihat adalah terjadinya penimbunan limbah, menyumbat saluran air, dan banjir mencemari lingkungan.
“Berikutnya, dia akan mempengaruhi kesehatan tubuh manusia kalau tertimbun di tanah atau air kemudian terjadi pecahan-pecahan dari limbah plastik itu berpotensi membahayakan kesehatan manusia jika air itu dikonsumsi,” kata dr Imran di gedung Kemenkes, Rabu (16/1/2019).
Tak hanya itu, dampak berbahaya akan terjadi pada tanaman di darat dan biota air. Misalnya, mikroplastik yang terkandung di dalam air akan langsung masuk ke dalam organ tubuh ikan. Ikan tersebut tidak akan bertahan hidup lama, dan apabila dikonsumsi oleh manusia juga dapat berbahaya.
“Kemudian kalau dia (mikroplastik) kena panas matahari atau terbakar itupun berbahaya bagi pernapasan. Kalau dibakar saja dia bisa menghasilkan zat karbon monoksida yang bahaya untuk kesehatan,” ucap dr Imran.
Namun demikian, tambah dr Imran, belum ada kajian ambang batas kandungan mikroplastik yang dapat membahayakan kesehatan makhluk hidup. Tetapi, masyarakat diimbau untuk mengurangi penggunaan plastik.
“Sebenarnya lebih diutamakan kita membatasi penggunaan plastik seperti di ritel atau warung-watrung. Kalau bisa dibatasi, kita gunakan tas belanja sendiri supaya tidak menambah produksi plastik,” katanya.
Mengurangi penggunaan plastik bisa dimulai dari rumah tangga melalui pengelolaan limbah. Caranya, bisa dengan pengelompokkan limbah organik dan nonorganik.
Limbah organik dapat dimanfaatkan sebagai kompos, sementara limbah nonorganik dapat didaur ulang menjadi karya seni bahkan karya bernilai ekonomi.
Membatasi penggunaan plastik juga bisa dilakukan dengan membiasakan bawa botol minum sendiri.(*/redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.