Kadis Kesehatan: Khasiat Senyawa Daun Pangi Wajib Uji Klinis Terhadap ODHA

oleh
Kadis Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo MSc PH didampingi Kabid P2P dr Steaven Dandel MPH (kanan) dan Kabid Kesmas dr Rima Lolong MKes (kiri), usai puncak peringatan HKN k-54, Senin (3/12/2018).

MANADO — Dinas Kesehatan Sulawesi Utara mengapresiasi adanya kajian ilmiah pengobatan HIV-AIDS menggunakan bahan lokal dari Minahasa yaitu daun pangi.

Menurut Kepala Dinkes Sulut dr Debie Kalalo MSc PH, informasi diperolehnya bahwa bahan tersebut masih terus dilakukan penelitian lanjutan.

Dalam bidang kedokteran, sebut dr Debie, walau sudah terbukti secara empirik masih wajib diuji klinis. “Harus diuji pada orangnya, jangan-jangan ada efek samping,” imbuh dr Debie, didampingi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Steaven Dandel MPH.

Di sisi lain, dr Debie mengimbau kepada Dinkes kabupaten/kota supaya dapat meningkatkan deteksi HIV-AIDS terhadap masyarakat. “Dan segera melaporkan temuan tersebut ke tingkat provinsi supaya bersama-sama menggalakkan program secara terpadu,” imbuhnya.

Hari pertama di bulan Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Sejak tiga dasawarsa lalu, tanggal 1 Desember menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran semua orang terhadap penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Baca juga:   SDM RSUP Kandou Terus Dipercaya Jabatan Strategis oleh Kemenkes

Seperti kita ketahui, tubuh manusia memiliki sel darah putih (limfosit) yang berguna sebagai pertahanan tubuh dari serangan virus maupun bakteri.

Virus HIV yang masuk tubuh manusia dapat melemahkan bahkan mematikan sel darah putih dan memperbanyak diri, sehingga melemahkan sistem kekebalan tubuhnya (CD4).

Dalam kurun waktu 5-10 tahun setelah terinfeksi HIV, seseorang dengan HIV positif jika tidak minum obat anti retroviral (ARV), akan mengalami kumpulan gejala infeksi opportunistik yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh akibat tertular virus HIV, yang disebut AIDS.

Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menyebut, sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/ AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia.

Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa atau 47%dari estimasi ODHA (Orang dengan HIV AIDS) tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa. Dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun.

Baca juga:   Perempuan Umur 32 Tahun Positif Covid-19, Punya Kontak Erat Kasus 58 Sulawesi Utara

Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757).

Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan keberhasilan bahwa semakin banyak ODHA yang diketahui statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium AIDS.

(Harry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *