Pola Penyakit Berubah, Germas Solusinya

oleh -107 Dilihat
foto Kadis Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo MSc PH (duduk ketiga kanan) dan Kabid Kesmas dr Rima Lolong MKes (duduk ketiga kiri) bersama peserta pertemuan.

MANADO-Perubahan pola penyakit atau transisi di Indonesia termasuk Sulawesi Utara (Sulut) memberi masalah pelik bagi pembangunan bidang kesehatan.

Dibuktikan dengan meningkatnya angka kematian dan kesakitan akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, diabetes, dan lainnya.

Diakui Kepala Dinas Kesehatan Sulut dr Debie Kalalo MSc PH, dampak meningkatnya kejadian PTM adalah bertambahnya pembiayaan pelayanan kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah.

Kemudian menurunnya produktivitas masyarakat, serta berkurangnya daya saing negara yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Dalam kegiatan evaluasi pelaksanaan Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), Senin (19/11/2018) di Manado, dr Debie mengutarakan bahwa program Germas sangat tepat menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena berfokus pada upaya preventif untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan hidup.

Di dalamnya mencakup 7 kegiatan utama. Pertama, melakukan aktivitas fisik.

Kedua, mengonsumsi sayur dan buah. Ketiga, memeriksa kesehatan secara rutin. Keempat, tidak merokok.

Kelima, membersihkan lingkungan. Keenam, menggunakan jamban sehat. Ketujuh, tidak mengonsumsi alkohol.

“Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mempertahankan program ini supaya terus berlangsung secara konsisten, tidak menghilang begitu saja, dan akhirnya terlupakan,” ucap dr Debie.

Sebab prinsip Germas Hidup Sehat adalah kerja sama dan keterlibatan multi sektor maupun pemangku kepentingan.

Baik itu antara sektor kesehatan dan sektor lain, supaya terjadi keseimbangan masyarakat, keluarga, dan individu, dengan pemberdayaan masyarakat khususnya mereka yang mau hidup sehat.

Dan menjadi mitra pengendalian penyakit, penguatan sistem kesehatan, reformasi, dan orientasi pelayanan kesehatan.

“Termasuk juga penguatan siklus hidup, jaminan kesehatan sosial, fokus pada pemerataan penurunan penyakit karena determinan sosial berupa kemiskinan, gender, lingkungan, budaya, dan tingkat pendidikan,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.