Istilah ini Bisa Membuat Trauma Keluarga Korban Lion Air

oleh

JAKARTA — Keluarga penumpang Lion Air JT610 masih trauma mendengar dan melihat pemberitaan mengenai kondisi jasad korban kecelakaan pesawat yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, itu. Oleh karena itulah media diimbau berhati-hati memberitakan insiden ini.

“Tolong hindari kata-kata yang mengandung sadisme untuk menghindari trauma keluarga,” ujar Kepala Analisis Kebijakan Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Slamet Pribadi, di RS Polri, Jakarta, Jumat 2 November 2018.

Dia berharap, media tak menyebut ‘potongan tubuh’ untuk menghindari trauma keluarga penumpang. Agar tak mengalami trauma, para keluarga penumpang kini sedang menjalani pendampingan, dibantu tim psikolog universitas, TNI, dan Polri, serta rumah sakit.

“Pendampingan dilakukan karena ada yang sampai di opname karena sakit kan,” kata Slamet.

Hingga pagi tadi, sebanyak 16 keluarga penumpang pesawat Lion Air JT610 menjalani pendampingan psikologis. Sehari lalu, sebanyak 53 keluarga penumpang turut menjalani pendampingan psikologis.

Baca juga:   5 Fakta Reuni 212, dari Barang Hilang hingga Puluhan Orang Pingsan

“Untuk hari ini, pendampingan psikoligis ada sebanyak 69 (keluarga), pelaksanaannya diperbaiki dari waktu ke waktu,” ujar Wakil Kepala RS Polri, Kombes Pol Haryanto.

Pendampingan psikologis dilakukan guna meringankan beban psikis keluarga yang mengalami shock dan kesedihan yang mendalam akibat belum pastinya kondisi anggota keluarganya. Haryanto mengatakan, pendampingan psikologis merupakan bentuk pelayanan pada keluarga penumpang Lion Air JT610.

“Selain pendampingan psikologis, kita juga kan ada trauma healing, yang mana dilakukan untuk memulihkan kondisi psikologis pihak keluarga,” ujar Haryanto.

(sumber: dream.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *