Danrem 132/Tadulako Akui Kehidupan Sosial Warga Pengungsian Mulai Membaik

oleh
Anak-anak diberikan terapi penyembuhan pasca trauma (trauma healing) di lokasi pengungsian.

SULTENG — Kehidupan sosial masyarakat di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala mulai membaik pasca bencana pada 28 September 2018 lalu.

Dikatakan Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Agus Sasmita, hal tersebut tidak terlepas dari peran Pemerintah Daerah, Satgas Kogasgabpad, relawan bahkan masyarakat sendiri untuk segera bangkit dari keterpurukan bencana.

Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Agus Sasmita (paling kiri) melaporkan langsung penanganan korban kepada Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (ketiga kiri).
Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Agus Sasmita (paling kiri) melaporkan langsung penanganan korban kepada Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (ketiga kiri).

“Meski fase tanggap darurat diperpanjang hingga 26 Oktober, namun di saat bersamaan kita juga melakukan kegiatan pemulihan dan rehabilitasi. Alhamdulilah, karena semuanya turut terlibat kita yakin secara bertahap situasi ini akan pulih seperti semula,” ucap Agus.

Dia menyampaikan, gelar kekuatan Kogasgabpad terdiri dari 6.325 orang unsur TNI, 2.528 personel Polri dan 4.747 orang relawan.

“Untuk kekuatan TNI sendiri terdiri dari 106 orang dari Mako Kogasgabpad yang merupakan gabungan tiga angkatan, 13 orang dari Mabes TNI, 1.609 orang dari TNI AL, dan 938 dari TNI AU,” urainya.

Baca juga:   Brigjen TNI Joseph Giri: Saudara-saudara Muslim Dijamin Kelancaran Beribadah Puasa dan Rayakan Idul Fitri

Untuk Satgas TNI AD yang berasal dari berbagai Kotama/Balakpus jajaran Angkatan Darat sendiri mencapai 3.659 orang.

Alumni Akmil 1993 ini juga menyampaikan bahwa Mabes TNI telah mengerahkan Alutsista-nya untuk mendukung operasional penanganan korban gempa dan tsunami.

Di antaranya, pesawat Hercules, helikopter, KRI, truk NPS, truk tanki, dump truck, ambulance dan alat angkut lainnya.

Ketika ditanya tentang hal menonjol yang masih berkembang, Agus menyampaikan bahwa korban meninggal telah mencapai 2.112 orang. Dan masih terjadi gempa susulan sebanyak delapan kali.

“Selain itu, guna mencegah epidemi penyakit, saat ini kita lakukan juga penyemprotan disinfektan di Balaroa dan Petobo,” tambahnya.

Menurut Agus, hingga kini Satgas jajaran yang berada dibawah kendalinya masih melaksanakan kegiatan pengamanan objek vital ataupun pemukiman yang rawan, pembersihan sisa bangunan sambil mencari korban yang masih tertimbun. Kemudian mendistribusikan logistik ke 125 titik via darat dan 3 sortir ke 2 titik via udara ke Desa Lonca dan Lende.

Baca juga:   Kerja Keras TNI-AD Diakui Berikan Karya Nyata

Adapula fogging di pelabuhan dan posko Balaroa maupun Petobo, patroli kesehatan dan pengobatan keliling, trauma healing, penyemprotan disinfektan dan lainnya.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Satgas yang dikendalikan oleh Korem 132/Tadulako adalah pembuatan shelter dan hunian sementara yang memadai untuk pengungsi, distribusi/pengeboran air bersih, pembersihan rumah penduduk dan fasilitas umum, tenda sekolah darurat, pembukaan jalan yang tertutup, serta penerangan di tempat relokasi.

Agus menerangkan, sesuai data yang dilaporkan ke Kogasgabpad, korban yang dimakamkan massal sejumlah 1.021 orang dan sisanya 1.091 makamkan oleh keluarga. Kemudian korban luka sejumlah 462 orang serta diprediksikan yang hilang atau tertimbun sekira 1.309 orang.

“Sedangkan yang dievakuasi melalui udara mencapai 19.053 orang dan laut sebanyak 1.098 orang. Mereka dievakuasi ke Makassar, Balikpapan, Jakarta, Manado, Surabaya, Kendari dan Nunukan,” urai Agus.

Untuk pengungsi di Sulteng sendiri mencapai 223.045 orang. Tersebar di 122 titik, lalu 6.635 orang di Makassar, 2.096 di Kalimantan, serta WNA yang terdampak sejumlah 130 orang.

Baca juga:   Sabet 2 Perunggu,Kontingen Yongmoodo Sangihe Sitaro Banjir Pujian Pangdam XIII/Merdeka

Di tempat terpisah, Dansatgas Brigif 022/Ota Manasa Kolonel Inf Verianto Napitupulu yang bertugas di sektor Sigi menyatakan, operasional PLN masih terkendala dampak likuifasi. Sehingga di beberapa camp pengungsian masih membutuhkan tambahan penerangan.

Selain masalah penerangan, menurut Verianto, kendala yang perlu mendapatkan prioritas yaitu penyediaan air bersih, alat transport distribusi air serta tenda.

“Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah makanan dan susu bayi, obat-obatan untuk penyakit kulit, diare, flu dan batuk,” pungkas alumni Akmil 1996 ini.

(Harry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *