UNICEF Bakal Support Vaksinasi Campak dan Rubella Hingga Tingkat Kabupaten/Kota

oleh
UNICEF mengajak sejumlah elemen masyarakat di Sulut untuk berkomitmen mendukung Kampanye Vaksinasi Campak dan Rubella 2018 di Bumi Nyiur Melambai.

MANADO-Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum perlu diwujudkan sesuai cita-cita bangsa Indonesia. Sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 melalui Pembangunan Nasional yang berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden).

Menurut Konsultan UNICEF (United Nations Children’s Fund) dr Halik Malik MKM, penyakit menular masih merupakan masalah. Sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai masalah.

Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Upaya preventif dan promotif merupakan salah satu upaya untuk melakukan menurunkan angka kesakitan.

Penyakit menular pada anak bayi sampai dengan balita, lewat pemberian imunisasi merupakan upaya prioritas yang dapat dipilih oleh semua wilayah. Mengingat bahwa imunisasi merupakan upaya yang efektif dan diperlukan oleh semua daerah.

Beberapa penyakit yang saat ini menjadi perhatian dunia dan merupakan komitmen global yang wajib diikuti oleh semua negara adalah eradikasi polio, eliminasi campak, pengendalian rubella dan eliminasi tetanus neonatal.

Terkait program Vaksinasi Campak dan Rubella, kata dr Halik, virus campak adalah virus yang berbahaya bagi anak balita. Dan menjadi salah satu penyebab kematian di periode awal anak.

(Dari kiri) Ketua IBI Sulut Maria Dondokambey SKM MMKes, Ketua KOMDA KIPI Sulut Dr dr Hesti Lestari SpA(K), Plh Kadis Kesehatan Sulut dr Rima Lolong MKes, Ketua IDI Sulut dr Franckie Maramis MKes PKK SpKT, Ketua MUI Sulut Abdul Wahab Abdul Gafur LC, Ketua PPNI Sulut Ns Jon Tangka MKep SpKMB, Konsultan UNICEF dr Halik Malik MKM, dan Budi Rarumangkay perwakilan Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS).
(Dari kiri) Ketua IBI Sulut Maria Dondokambey SKM MMKes, Ketua KOMDA KIPI Sulut Dr dr Hesti Lestari SpA(K), Plh Kadis Kesehatan Sulut dr Rima Lolong MKes, Ketua IDI Sulut dr Franckie Maramis MKes PKK SpKT, Ketua MUI Sulut Abdul Wahab Abdul Gafur LC, Ketua PPNI Sulut Ns Jon Tangka MKep SpKMB, Konsultan UNICEF dr Halik Malik MKM, dan Budi Rarumangkay perwakilan Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS).

Sedangkan virus rubella adalah salah satu virus yang paling berbahaya untuk embrio dan janin. Bila seorang wanita terkena infeksi rubela pada waktu hamil, khususnya pada trimester pertama, maka risiko infeksi terhadap janin sangat tinggi. Sekira 95%.

Virus berkembang biak dalam plasenta dan menginfeksi janin, menyebabkan terjadinya kelainan yang disebut dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS).

Baca juga:   Ketambahan 5 Orang Terkonfirmasi Positif Covid-19, Dinkes Kota Kotamobagu Ajak Warga Patuhi 3M

Virus rubella merupakan penyebab kasus congenital rubella, aborsi (baik secara spontan maupun disengaja), kematian neonatal, ketulian, kebutaan, dan mental retardation.

Keadaan ini memicu dikembangkannya virus yang efektif melawan rubella, dan dapat mencegah rubella secara efektif.

Konsultan UNICEF dr Halik Malik MKM membuka media briefing di Hotel Aston Manado, Jumat (20/7/2018).
Konsultan UNICEF dr Halik Malik MKM membuka media briefing di Hotel Aston Manado, Jumat (20/7/2018).

UNICEF, sebut dr Halik, mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang berkomitmen mengeliminasi penyakit Campak dan Rubella pada tahun 2020.

Melalui Program Kampanye Nasional Vaksinasi Campak dan Rubella yang menyasar sekira 70 juta anak. Terbagi dalam dua periode, fase 2017 dan 2018.

Pemberian imunisasi merupakan ikhtiar pemerintah untuk memenuhi hak anak Indonesia di dalam mencapai status kesehatan yang setinggi-tingginya. Target capaian nasional 95 persen ditetapkan dengan ketentuan tidak ada daerah yang berada di bawah angka capaian 80 persen, untuk memastikan keberhasilan kampanye ini.

Lanjut dr Halik, UNICEF telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, untuk merancang dan melaksanakan Fase I Program Kampanye Nasional Vaksinasi Campak dan Rubella 2017 yang dipusatkan di Pulau Jawa.

Dan berhasil melakukan imunisasi terhadap 35 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun, mencapai capaian 95 persen yang ditetapkan.

Pada fase kedua kampanye yang akan berlangsung pada periode Agustus-September 2018, program ini menyasar 32 juta anak di 28 provinsi di luar Jawa. Dan dilaksanakan tanpa memungut biaya.

Indonesia adalah negara yang memiliki luas dan keberagaman. Itu pun ikut berpengaruh terhadap pengelolaan logistik dan komunikasi di dalam pelaksanaan program ini.

Pencapaian keberhasilan program ini di luar Jawa memerlukan kerjasama dan koordinasi efektif pada tingkat provinsi dan kabupaten.

Baca juga:   Kabar Gembira, RSUP Prof Kandou/FK Unsrat Dinyatakan Layak Sp-1 Radiologi oleh Kolegium Radiologi Indonesia

UNICEF memberikan dukungan teknis kepada pihak dinas kesehatan di tingkat provinsi dan kabupaten di dalam pelaksanaan advokasi dan komunikasi, mobilisasi sosial dan politik, serta pemantauan dan daya tanggap real time.

Untuk memastikan penjangkauan anak di pelaksanaan program ini, UNICEF juga memberikan dukungan kepada Kementerian Sosial Republik Indonesia. Untuk melakukan pemetaan terhadap anak-anak yang hidup di fasilitas pengasuhan (panti) dan anak-anak jalanan.

Kerjasama pemetaan ini dilaksanakan di 10 kota terpilih. Pelaksanaan pemetaan di luar sepuluh kota tersebut tetap berlangsung di bawah koordinasi Kementerian Sosial dan dinas sosial di tiap provinsi dan kabupaten/kota.

Hasil pemetaan ini akan dijadikan dasar bagi tim Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan di masing-masing lokasi. Guna memastikan tercakupnya anak-anak kelompok rentan di dalam Program Kampanye Nasional Vaksinasi Campak dan Rubella Fase 2.

Menurut dr Halik, salah satu faktor utama keberhasilan pelaksanaan Program Fase I adalah adanya dukungan media massa di dalam pelaksanaan sosialisasi advokasi dan komunikasi, mobilisasi sosial dan politik, serta pemantauan dan daya tanggap real time.

Berdasarkan pengalaman kerjasama yang berhasil ini, UNICEF Indonesia melihat pentingnya untuk bekerjasama dengan media-media massa lokal sebagai salah satu aktor utama yang strategis untuk mendukung pelaksanaan Program Kampanye Nasional Vaksinasi Campak dan Rubella 2018.

Peran media di dalam program ini adalah untuk menyajikan pemberitaan yang akurat dan obyektif. Juga menjadi penjernih atas berita-berita negatif terkait vaksinasi.
Berperan pula sebagai pengawas dan pendorong kemajuan serta pencapaian pelaksanaan program.

Baca juga:   Total se-Indonesia 1.677 Kasus Covid-19, Sulut 3 Positif

Cakupan Populasi Sasaran Kampanye Nasional Vaksinasi Campak dan Rubella 2018 wilayah Sulawesi dan Maluku di bawah Kantor Perwakilan UNICEF Makassar adalah sebesar 6.194.165 anak usia 9 bulan hingga 15 tahun, ada di delapan provinsi.

Di antaranya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku dan Maluku Utara. Dengan sebaran di 102 kabupaten/kota.

Tantangannya, sebut dr Halik, beberapa pemimpin pemerintahan daerah belum aktif dan termotivasi seperti yang lainnya.

Masih adanya penentangan terkait kehalalan dan keamanan vaksin, dengan dahlil/rujukan yang tidak relevan dan tidak benar.

Di sisi lain, dukungan telah disampaikan oleh semua lembaga agama terhadap program vaksinasi campak dan rubella. Termasuk perihal kehalalan dan keamanan vaksin.

Beredarnya informasi yang menyesatkan mengenai beberapa kejadian pasca imunisasi, menciptakan gelombang baru penolakan dari orang tua dan kelompok masyarakat.

Sekolah elit, masyarakat kelas ekonomi atas, bahkan menolak untuk berpartisipasi dalam program imunisasi yang didanai pemerintah. Dan mengklaim mereka dapat mengimunisasi anak-anak mereka sendiri.

Rekomendasi Kampanye Vaksinasi Campak Rubella (MR) adalah program pemerintah pusat. Karena itu, gubernur dan walikota/bupati adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat. Advokasi tingkat tinggi adalah kunci untuk keberhasilan kampanye ini.

Gubernur dan walikota/bupati adalah panutan, teladan, dan rujukan untuk memimpin kampanye ini. Dengan begitu, fase terakhir Kampanye Nasional Vaksinasi Campak dan Rubella di September nanti, akan menjamin kesuksesan.

“Mengatasi kesalahpahaman adalah suatu keharusan. Suara gubernur perlu didengar berulang kali sepanjang kampanye,” pungkas dr Halik.

(Harry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *