DJSN Edukasi Sistem Jaminan Sosial Nasional ke Publik Kota Bitung

oleh
Rudy Prayitno SE membawakan sambutan pada pembukaan Edukasi Publik SJSN.

MINUT-Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) memberikan edukasi publik tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) bagi stakeholder di Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Mengangkat tema ‘Optimalisasi Pemenuhan Hak dan Kewajiban Dalam Jaminan Sosial’, kegiatan ini dilaksanakan di Sutanraja Hotel, Kamis (19/7/2018).

Dalam sambutannya, Anggota DJSN Rudy Prayitno SE menuturkan, SJSN yang disahkan berdasarkan UU Nomor 40/2004 menjawab harapan seluruh rakyat Indonesia yang ingin memiliki jaminan sosial.

Pembentukan SJSN, kata Prayitno, merupakan cara pemerintah memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. Dan penyelenggaraannya oleh BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

DJSN bersama peserta edukasi publik, Kader JKN, dan Kader Perisai.
DJSN bersama peserta edukasi publik, Kader JKN, dan Kader Perisai.

Tak dapat dipungkiri, sebut Prayitno, adanya pengeluaran tidak terduga apabila seseorang terkena penyakit tergolong berat, menuntut stabilisasi rutin seperti hemodialisa atau biaya operasi sangat tinggi.

Hal ini berpengaruh pada penggunaan pendapatan seseorang dari pemenuhan kebutuhan hidup pada umumnya menjadi biaya perawatan di rumah sakit, obat-obatan, operasi, dan lain lain.

Baca juga:   RSUP Kandou Bantu Provinsi Sulut Tangani Penyakit Katarak

Ini tentu menyebabkan kesukaran ekonomi bagi diri sendiri maupun keluarga. Sehingga munculah istilah “SADIKIN”, sakit sedikit jadi miskin.

Dapat disimpulkan, kesehatan tidak bisa digantikan dengan uang. Dan tidak ada orang kaya dalam menghadapi penyakit karena dalam sekejap kekayaan yang dimiliki seseorang dapat hilang untuk mengobati penyakit yang dideritanya.

Begitu pula dengan resiko kecelakaan dan kematian. Suatu peristiwa yang tidak kita harapkan namun mungkin saja terjadi kapan saja dimana kecelakaan dapat menyebabkan merosotnya kesehatan, kecacatan, ataupun kematian karenanya kita kehilangan pendapatan, baik sementara maupun permanen.

Belum lagi menyiapkan diri pada saat jumlah penduduk lanjut usia di masa datang semakin bertambah.

Lanjut Prayitno, pada tahun 2030, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia adalah 270 juta orang. 70 juta di antaranya diduga berumur lebih dari 60 tahun.

Dapat disimpulkan, pada tahun 2030 terdapat 25% penduduk Indonesia adalah Lansia. Lansia ini sendiri rentan mengalami berbagai penyakit degeneratif yang akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan berbagai dampak lainnya.

Baca juga:   Waspada Masalah Stunting, Ini Penjelasan Kadis Kesehatan Sulut

“Apabila tidak ada yang menjamin hal ini, suatu saat mungkin dapat menjadi masalah besar,” tandasnya.

Hadir pada Edukasi Publik SJSN tersebut, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Bitung Drs Jeffry Wowiling MSi, Anggota DJSN Ahmad Ansyori SH MHum CLA, Koordinator BPJS Watch Timboel Siregar, Chief Advisor JICA Sharoushi Project Ishizu Katzumi dan Toru Oki, serta pimpinan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

(Harry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *