Butuh Sentuhan Pasaran, Pengrajin Bambu Batik Bowongkulu Berharap Pada Pemerintah

oleh
Salah satu pengrajin bambu batik Kampung Bowongkulu 1 Sam Pailaha.

TAHUNA-Salah satu home industri Sangihe yang saat ini masih bertahan ditengah lesunya pembeli atau tempat pemasaran adalah pengrajin bambu batik yang tersebar di wilayah Kampung Bowongkulu dan Kampung Bowongkulu 1 Kecamatan Tabukan Utara. Dimana berbagai bentuk hasil olahan tangan pengrajin yang telaten itu menghasilkan berbagai kebutuhan rumah tangga mulai dari kursi hingga perabotan lainnya.

Salah satu dari pengrajin bambu batik Sam Pailaha (34), warga Kampung Bowongkulu I ketika ditemui mengatakam  aktivitas membuat kursi dan meja di wilayah tersebut sudah berlangsung semenjak lama. Bahkan tiga orang dari kakak beradik tersebut semuanya berprofesi sebagai pengrajin bambu.

“Pekerjaan ini sudah turun temurun dari orang tua kami semenjak dahulu. Kami bersaudara tiga laki laki, semuanya bisa membuat kerajinan ini. Saya sendiri menekuni pekerjaan ini kurang lebih sudah 14 tahun, semenjak berumur 20 tahun,” ungkap Pailaha.

Selanjutnya menurut dia, kerajinan tersebut, khususnya meja dan kursi biasanya dijual dengan harga dua juta lebih, terdiri 1 Kursi Panjang, 1 Meja dan 3 Kursi Kecil.

Baca juga:   SPJ Syarat Mutlak Cair Dandes Tahap II, Wabup Warning Kapitalaung Se-Sangihe

“Harga dalam Satu Set biasanya Rp. 2.500.000, yang terdiri dari 1 Kursi Panjang, 1 Meja dan 3 Kursi Kecil. Sedangkan untuk harga satuan, seperti kursi panjang (rosban) diberikan harga Rp.350.000,” jelasnya.

Ketika ditanya apakah ada bantuan yang diterima dari pemerintah, Pailaha mengatakan memang selama ini ada bantuan, namun demikian warga di tempat tersebut sangat membutuhkan sosialisasi pasar, agar hasil karya mereka lebih dikenal luas.

“Yah memang ada beberapa kali ditawarkan bantuan, namun demikian kami tetap berharap bahwa, usaha mandiri kami tetap dikenal di masyarakat luas,” jelasnya lagi.

Terkait dengan omzet penjualan, dia menjelaskan bahwa biasanya dalam sebulan hanya satu set. Namun demikian, pada bulan Desember tahun 2017 lalu mereka sempat menerima banyak orderan.

“Kalau hari-hari seperti sekarang biasanya kami hanya mendapat orderan satu set dalam sebulan. Tapi pada bulan Desember lalu, kami menerima pesanan mencapai lima set dalam seminggu,” imbuhnya.

Baca juga:   Pengobatan Gratis Dan KKR GMIST Warnai 500 Tahun Reformasi Gereja

(sam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *