Jelas Dalam Kwitansi Pembayaran, Lesawengen Bantah Terima  Fee dan Gelapkan Pajeko

oleh
Mantan Kapitalaung Bengketang Kecamatan Tabukan Utara Desmon Lesawengen.

TAHUNA-Mencuatnya ke permukaan publik adanya dugaan penggelapan perahu bantuan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) serta adanya setoran fee kepada Mantan Kapitalaung Bengketang Kecamatan Tabukan Utara Desmon Lesawengen belakang ini, tentunya menjadi tanda awas bagi semua Kapitalaung di Sangihe agar tidak melakukan tindakan yang bermuara ke ranah hukum.

Meski ada bukti kuat dugaan adanya aliran dana setiap bulan yang diterima mantan Kapitalaung yang ditandatangani dalam kwitansi namun Lesawengen tetap membantah tudingan tersebut.

Ditemui langsung di rumahnya (20/3/2018), Lesawengen berkeras membantah  tudingan kepadanya mengenai penggelapan perahu bantuan tersebut dan menerima fee.

“Itu tidak benar sama sekali. Perahu tersebut sebenarnya diberikan pada tahun 2010. Dan sudah lama dibiarkan di pantai. Karena telah dibiarkan, maka ada yang menawarkan untuk membuatnya. Jadi kelompok nelayan mengadakan rapat dan disaksikan oleh salah satu anggota polisi sebagai saksi. Rapat itu adalah rapat kesepakatan bersama untuk menyerahkan perahu itu untuk diperbaiki oleh Sudarman Mangamba,” ujar Lesawengen.

Lesawengen juga menambahkan bahwa di dalam surat perjanjian tersebut sangat jelas keterangannya. Mengenai oknum yang bernama Sudarman Mangamba, merupakan nelayan penangkap tuna di Pulau Lembeh.

Baca juga:   Hontong Lantik 2 Pejabat Kapitalaung dan 3 MTK.

“Di surat perjanjian sudah sangat jelas. Perahu itu dijanjikan akan diperbaiki oleh saudara Sudarman Mangamba. Kemudian digandeng ke Lembeh. Sudarman Mangamba ini punya banyak keluarga di Peta. Dia yang datang menawarkan diri untuk memperbaiki perahu itu dan semua menyepakatinya,” ujarnya kembali.

Ketika ditanya mengenai aliran dana dari hasil operasi perahu penangkap ikan tersebut, Lesawengen membantah meski dalam kwitansi jelas nama dan tanda tangan yang bersangkutan menerima fee Rp 5 juta/bulan.

“Saya tidak pernah menerima uang dari hasil perahu tersebut. Saya berfikir hal ini diangkat kembali karena kepentingan Pilkades. Padahal sudah berapa kali saya jelaskan. Dan sebagian besar masyarakat sangat paham masalah ini,” tuturnya kembali.

Selanjutnya ia menyatakan sampai hari ini keberadaan Sudarman Mangamba tidak diketahui. Lesawengen mengatakan sudah berapa kali dia menghubunginya untuk mempertanggungjawabkan persoalan itu. Namun tidak bisa dihubungi lagi. Namun demikian sudah ada beberapa orang termasuk petugas yang hari ini mencari keberadaannya di Lembeh Kota Bitung.

Baca juga:   Bakal Segera Diterapkan Di sangihe, Rastra Menjelma Menjadi BNT

(sam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *