Ketua Walubi Manado: Ini Makna Hari Suci Goan Siau

oleh
Ketua Walubi Kota Manado Sufandi Siwi.

MANADO -Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kota Manado Sufandi Siwi mengatakan, yang dimaksud dengan ‘Goan Siau’ adalah upacara keagamaan berdasarkan pemahaman ajaran Tridharma secara utuh. Dengan pengertian bahwa Tuhan Allah sebagai penguasa tertinggi alam semesta, mengembalikan keselarasan alam beserta semua unsur kehidupannya.

Sebagaimana pada awal penciptaan untuk membebaskan manusia dan alam lingkungannya dari segala musibah. Berupa kemelaratan, kesedihan, penderitaan, dan sebagainya. Serta mengajak umatnya untuk membangun jagad baru menuju pada keteraturan, tertib, aman, subur, makmur, serta memberi kesejahteraan pada manusia dan lingkungannya.

Sebaliknya, manusia mengikuti gerak alam ini dengan ikut serta dalam pembersihan dan penjabaran kembali dunia baru yang teratur, tertib, dan damai, untuk mengawali kehidupan yang baru, bebas, bersih, murni, sempurna lahir dan bathin berdasarkan hukum alam.
Karena itu umat manusia harus berusaha dan bergerak menuju dan terarah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan tujuan untuk membentuk suatu kemanunggalan besar, terpadu, serasi dengan kehendak Ilahi.

Goan Siau bukanlah merupakan ciptaan manusia, tetapi merupakan karya besar ciptaan Tuhan. Oleh karena itu bersifat sakral. Akarnya dapat ditemukan kembali pada awal pembabaran langit dan bumi. Dan hal ini oleh berbagai bangsa dunia lama telah tanggap seluruhnya sejak zaman kuno dan merupakan pandangan kuno yang berbobot universal.
Goan Siau yang keramat ini berarti menggelar Ketuhanannya. Maka semua sarana atau wahana perangkat nilai yang dipakai untuk menciptakan hari suci ini, pada hakekatnya adalah usaha mengikuti perilaku tata alam semesta.

Baca juga:   Panitia POR P/KB GMIM Buka Pendaftaran Hingga 1 April 2017

Itulah sebabnya semua komponen yang mempunyai hubungan satu sama lain, serta merupakan rangkaian yang dapat menampilkan formalitas ritual, liturgi, prosesi goan siau, dan tidak dapat dikatakan penampilan profan. Tetapi merupakan usaha untuk menghadirkan yang suci dan keramat dalam keadaan utuh dan selengkap mungkin.

Gerak upacara Goan Siau itu sendiri disebut atau dinamakan ‘kiat kae’. Dan puncak upacaranya yang dilaksanakan pada tanggal 15 bulan 1 imlek dinamakan ‘Goan Siau’ atau ‘Purnama Agung’. Dimana Tuhan telah menyelesaikan karyaNya membuka pintu langit yang mula-mula gelap menjadi cerah. Siangnya diberi penerangan matahari dan malam diberikan penerangan rembulan.

Goan Siau juga dinamakan ‘Siong Goan’ karena masih terdapat hari raya rembulan lain yang terkenal. Seperti ‘tiong goan’ dan ‘he goan’. Siong goan berarti waktu/masa/Goan atas. Jatuh pada tanggal 15 bulan 1 imlek. Tiong Goan berarti waktu/masa/Goan tengah. Jatuh pada tanggal 15 bulan 7 imlek. Sedangkan He Goan berarti waktu/masa/Goan bawah. Jatuh pada tanggal 15 bulan 10 imlek.

Baca juga:   Food Festival Manado Fiesta 2017, Walikota GSVL angkat kipas Ikut Bakar Ikan

Menurut ensiklopedi K’Angshi, huruf Goan berarti kekuatan besar langit dan bumi yang melahirkan semua makhluk hidup. Atau dengan perkataan lain adalah asal mula semua wujud. Huruf ini dapat juga disalin dengan yang perdana, yang menurunkan, yang menjadikan. Maka Hari Raya Goan Siau merupakan Hari Raya Goan, yaitu Goan Matahari, Goan Permulaan, dan Goan Rembulan.

Bertepatan dengan Goan Siau, hari itu juga merupakan Hari Raya Siong Goan atau ‘Sam Kae Kong’ (3 penguasa alam semesta atas angkasa, tanah, dan perairan). Terutama hari itu adalah hari raya penguasa angkasa yang telah selesai membuka pintu angkasa yang mula-mula gelap menjadi cerah sebagai karya Tuhan Yang Maha Esa. Dan manusia menyambutnya dengan rasa syukur dan menyelenggarakan ritual/prosesi untuk Tuhan dan para utusanNya. Manakala semua penerangan abadi hadir dalam suatu kemanungggalan yang kesehariannya di Tempat Ibadah Tridharma diwujudkan pada pelita yang ada di atas hiolo Thian. Pada hari itu, umat membawa pulang dengan menyulut api tersebut untuk menyalakan berbagai penerangan dalam rumah tangganya. Agar kehidupan keluarga senantiasa diliputi sinar kemuliaan nan abadi.

Upacara pengambilan api suci disebut “Kwak He” atau “Chu He” atau “Khiat He” yang pengertiannya sama, yaitu mengambil api suci. Dapatlah dikatakan bahwa upacara ritual keagamaan Goan Siau sebenarnya adalah suatu upacara suci lahirnya unsur penerang, lambang kehidupan yang mengusir kegelapan, kedinginan, dan kematian.

Baca juga:   Operasi Balita Rahayu Penderita Labio Platoschisis (Bibir Sumbing) Berjalan Lancar Atas Dukungan Wali Kota Manado Dan Wawali

Yang di angkasa diwakili oleh matahari sebagai pengusir kegelapan dan kedinginan, sebaliknya mendatangkan kehangatan dan kesuburan serta penerangan. Sedangkan bulan sebagai penerangan di malam hari, kemudian menyusul penerangan lainnya berupa api lilin, dupa.
Dan terakhir upacara injak api disebut “ke he”. Dengan maksud membakar habis semua hawa jahat, malapetaka, wabah penyakit, sekaligus membersihkan manusia dari segala hawa nafsu keduniawian.

Inilah makna yang terkandung dalam upacara suci Goan Siau, sebagai bukti nyata betapa luasnya fungsi dan peran Tempat Ibadah Tridharma, yang diperkenankan untuk melaksanakan upacara suci tersebut dengan luas cakupannya. Yaitu,Berdasarkan bagian alam:

Atas – mencakup alam langit
Tengah – mencakup alam bumi
Bawah – mencakup alam manusia

Berdasarkan sifat alam:
Langit – mencakup makhluk hidup di langit
Bumi – mencakup makhluk hidup di bumi
Air – mencakup makhluk hidup di air

Berdasarkan kekuasaan alam:
Langit – mencakup seluruh dunia
Bumi – mencakup suatu negara
Manusia – mencakup suatu kota.

(Harry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *