Harumnya Aroma Dugaan Korupsi IPAL Hiung. Belum Tercium Aparat Hukum?

oleh

TAHUNA -Proyek puluhan Miliaran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kampung Hiung Kecamatan Manganitu dan jaringan air bersih dari Kampung Hiung Menuju Tahuna diduga harum akibat aroma korupsi yang mulai tercium. Kenapa tidak proyek yang dikerjakan oleh 3 perusahaan besar tahun anggaran 2016 ini hingga penghujung tahun anggaran 2017 ini tidak berfungsi sama sekali atau tidak mampu dirasakan oleh masyarakat.

Buktinya warga Kampung Bakalaeng, Kampung Tawoali, Kelurahan Lesa, Kelurahan Enengpahembang hingga masyarakat di Kota Tahuna dan sekitarnya yang menjadi konsumen air bersih dari Kampung Hiung justeru sampai saat ini tak setetes pun air yang nyatanya melimpah namun belum bisa dinikmati.

“Kami punya harapan besar ketika air bersih yang dialirkan dari Kampung Hiung akan dinikmati semua lapisan masyarakat di tahun 2017 ini, namun hingga sekarang setetespun air bersih itu tidak kami nikmati,” jelas Gustaf Serang warga Keluraharan Enengpahembang.

Lebih lanjut Serang menyatakan, dari informasi yang ia dapatkan bahwa proyek Satuan Kerja (Satker) Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Utara ini diduga sarat dengan korupsi pada saat pekerjaan dilakukan. Sebab memasuki masa pemeliharaan jaringan instalasi air bersih hingga bak penampungan justeru bocor dan tidak diperbaiki oleh oknum-oknum kontraktor.

Baca juga:   Perjuangkan Pemotongan DAU Wabup Pimpin Tim Loby Kemenkeu

“Sudah banyak laporan masyarakat terkait dengan buruknya kualitas proyek lantas kenapa aparat hukum justru terkesan diam,” jelasnya kembali.

Olehnya Saerang meminta aparat hukum untuk melakukan penyelidikan harumnya terhadap aroma korupsi IPAL dan instalasi air bersih Kampung Hiung.

“Jelas belum berfungsinya proyek air bersih bernilai Miliaran Rupiah kuat dugaan ada ketidakberesan dalam pekerjaan proyek,” imbuh Serang.

Keluhan yang disampaikan masyarakat tersebut dibenarkan oleh Novilius Tampi Direktur PDAM dan menyatakan bahwa dalam pembangunan IPAL dan Pipa sampai Bak penampungan yang ada di Kelurahan Lesa dilakukan oleh 3 kontraktor, pertama pihaknya akan menggunakan IPAL ditemukan masalah, begitu juga dengan jaringan pipa yang sering bocor di berbagai lokasi.

“Kami belum bisa mengambil alih pembangunan IPAL dan jaringan air bersih, karena masih tanggung jawabnya pihak Satker PU. Apalagi ada 3 kontraktor yang mengerjakannya dan sudah lewat waktu pekerjaan jika terhitung sampai sekarang,” ungkap Tampi, sembari menegaskan PDAM Sangihe akan terus berkordinasi dengan pihak Sarker PU agar dapat menindaklanjuti keluhan masyarakat.

Baca juga:   Nuansa Adat Bakal Warnai Pesta Tulude dan HUT Daerah Sangihe ke-594

“Kami menyerahkan masalah ini ke pihak Satker PU supaya dapat menindak tegas kontraktor pelaksana agar dapat menyelesaikan proyek ini dengan baik dan dapat dinikmati masyarakat,” pungkas Tampi.

(sam)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *