Awali Tahun 2017, Kecamatan Dimembe Gelar Ritual Adat

oleh
Gelaran upacara adat mengawali tahun 2017 dilaksanakan di Kecamatan Dimembe, Jumat (20/2/2017)

MINUT- Gelaran ritual adat masyarakat Tonsea dalam bentuk sesajian berupa Hati Babi, Pinang, Rokok, Captikus dan mangkuk yang terbuat dari bambu dengan mengumpulkan para petua  kampung adalah untuk melihat kedepan akan kelangsungan hidup di Tanah Tonsea. Ini merupakan kepercayaan adat di Minahasa Utara (Minut) khususnya yang ada di tanah Tonsea tepatnya di desa Kema, Jumat (21/1/2017)

Acara yang di mulai dari pagi hari dipadati masyarakat yang ingin melihat langsung acara adat ini.  Cuaca yang cerah ikut mendukung pergelaran acara ini.

Dalam proseai ritual adat ini sebanyak 15 Tetua  kampung mengambil sikap duduk melingkar,  yang terdiri dari Camat Dimembe Marko Korengkeng, Hukum tua Dimembe Johanes Tuahida, Hukum tua Laikit Jantje Manua dan Danramil Dimembe Pakat Takumansa dan ditambah beberapa Tetus Kampung.

Dalam prosesi adat ini, para Tetua meminta petunjuk demi melihat kelangsungan hidup masyarakat di Tanah Tonsea ini. Lewat Ketua Ritual Adat Sam, pesan leluhur dititipkan. Sam mengatakan bahwa di Tahun 2017 nanti, kehidupan masyarakat di  kecamatan Dimembe akan baik baik saja, dan tentu saja harus selalu berdoa dan berusaha.

Baca juga:   Dilantik Bupati Panambunan, JULIUS RUMIMPUNU Pimpin APSI Minut

Terpisah, Hukum tua Laikit Jantje Manua menerangkan bahwa di gelarnya ritual ini adalah untuk meminta petunjuk kehidupan nanti dengan memakai perantaraan Hati Babi yang di telah di potong sesuai dengan peraturan adat .

“Hasil dari ritual yang di laksanakan ini menunjukkan bahwa Warga Dimembe ini kedepannya akan lebih baik lagi, karena lewat Hati Babi, yang nampak sangat bersih. Ini pertanda baik karena jarang sekali  mendapatkan Hati Babi sebersih ini,” tukasnya.

Acara adat ini merupakan ritual yang selalu di laksanakan setiap awal tahun dengan mengumpulkan para Tetua Kampung.

Ada hal yang unik dan menarik dalam ritual ini. Pada saat ritual adat ini, ada dua Tetua Kampung yang “dimasuki” Tonaas Opo Wagiu dan Tete Maria yang memberikan petunjuk. Petunjuk yang diberikan adalah mengenai kehidupan masyarakat dimasa depan.

(Marvil Kembuan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *